Tafa dengan tekun mengisi minyak tanah ke lampu colok, sebelum dipasang ke menara. (Foto: Jarir Amurun/Riau Pos) |
Laporan JARIR AMRUN, Bengkalis
jarir@riaupos.com
Walau tangannya berselemak minyak tanah, namun Tafa (9) tetap asyik menuang minyak tanah ke lampu colok yang terbuat dari botol bekas minuman kaleng. Bersama rekan-rekannya, Tafa menikmati semua pekerjaan itu seperti bermain saja, padahal di saat-saat akhir Ramadan suhu udara semakin terik di Pulau Bengkalis. Tekak pun kering. Jumlah yang harus dipasang sekitar 5.000 lampu colok.
Apakah pekerjaan membantu memasang lampu colok ini dibayar? Tafa sambil tersenyum nyengir mengaku, tidak dibayar sepeser pun. ‘’Tak ade do pak, paling kalau lampu coloknya menang, kami dapat kain sarung,’’ ujar Tafa yang memiliki nama lengkap Mustafa ini, Ahad (21/9).
Memang biasanya, lampu colok yang menjadi tradisi di Pulau Bengkalis ini selalu diperlombakan, bahkan hadiahnya sampai Rp8 juta. Tapi modal untuk mendirikan lampu colok ini bisa mencapai Rp15 hingga Rp20 juta. Jadi tak sebanding antara hadiah dengan modal yang dikeluarkan. Yang menjadi pertanyaan mengapa acara tujuliko (menyalakan lampu colok di malam 27 Ramadan) ini tetap diminati warga Bengkalis, khususnya di Desa Sungai Alam.
Tafa sebenarnya bukan warga Desa Sungai Alam, Bengkalis, ia dilahirkan di Selatpanjang, namun kedua orang tuanya berasal dari Sungai Alam. Setiap hari raya, dia diajak kedua orang tuanya pulang kampung, dan selama libur Ramadan, Tafa paling suka mem¬bantu menyalakan lampu colok. Memang sebagai bocah, dia tidak bisa membantu mendirikan kerangka struktur menara lampu colok yang tingginya mencapai 15 sampai 20 meter.
Tiang-tiang yang terbuat dari kayu itu membentuk seperti kerangka bangunan menjulang tinggi. Umumnya bentuk masjid dengan beragam corak, seperti masjid dengan empat menara di sampingnya, ada bentuk masjid dengan kubah yang megah, tetapi ada juga bentuk hewan seperti angsa, dan kapal langcang kuning. Namun lebih banyak corak lampu colok ini adalah bentuk masjid, hanya sebagian saja yang berbentuk lain.
Tafa tidak bisa membantu mendirikan kerangka kayu-kayu menara lampu colok itu, dia hanya bisa membantu mencari kaleng minuman bekas untuk dijadikan lampu colok. Tugas lain yang bisa dilakukan, mengisi minyak tanah ke dalam lampu colok itu.
Jumlah kaleng minuman yang diperlukan untuk membentuk lampu colok yang megah, diperlukan minimal 5.000 kaleng minuman. Untuk mendapatkan kaleng minuman sebanyak itu, anak-anak biasanya mencarinya jauh-jauh hari sebelum malam tujuliko.
‘’Kami inilah yang mencari kaleng-kaleng itu, mencari di pinggir rumah atau di parit,’’ ujar Umar, rekan Tafa yang sama-sama hobi lampu colok.
Bagi Tafa, pekerjaan mencari kaleng minuman bekas menyenang¬kan, karena berharap lampu colok yang dibuatnya bersama orang di kampung, akan menjadi pemenang tahun ini. Minimal, kalau pun tidak menang, tampilannya sangat menarik, sehingga membuat orang melihatnya senang.
Padahal kalau saja kaleng minuman itu dijual ke tempat penam¬pungan barang bekas, Tafa bersama rekan-rekannya akan mendapat uang yang cukup lumayan, tapi dia tidak memilih itu. Pekerjaan mencari kaleng minuman ini hanya untuk lampu colok semata.
Seorang bapak ikut menyalakan lampu colok. (Foto: pojokphoto.com)
‘’Kami semua sudah paham, minuman kaleng bekas itu harus disimpan untuk membuat lampu colok di depan rumah kita sendiri. Misalnya saya sendiri tidak akan membuang kaleng minuman bekas itu, sebab saya akan membuat lampu colok di depan rumah saya. Kalau saya lupa, anak saya yang menyimpannya,’’ ujar Teh Boy.
Pokoknya semua warga tidak akan menyianyiakan kaleng bekas minuman itu. Semua sudah tahu, pada malam Tujuliko, mereka perlu kaleng bekas minuman. Bahkan bukan hanya kaleng bekas minuman, botol kecil bekas obat pun disimpan, nantinya bisa digunakan untuk lampu colok.
‘’Botol bekas obat batuk pun bisa digunakan untuk lampu colok. Tapi kalau tidak punya botol atau kaleng bekas minuman, biasanya warga menggunakan lampu colok dari bambu, tapi cara ini boros minyak,’’ papar sosok bapak yang pernah menjadi panitia lampu colok ini.
Dengan semakin berharganya kaleng minuman bekas ini, bagi Tafa dan rekannya, pekerjaan mencari kaleng minuman bekas ini agak berat.
Soal jumlah kaleng minuman bekas tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah bagi panitia tahun 2011 ini adalah soal dana dan kelangkaan minyak tanah. Setakat ini, dana belum jelas. Biasanya, dana dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis sudah cair sebelum pelaksanaan lampu colok, tapi tahun 2011 ini, dana itu tidak ada. Pemkab tidak mengalokasikan dana lampu colok.
‘’Kalau memang ada dananya, tapi belum bisa cair jelang malam tujuliko ini, bagi kami sebagai panitia tidak masalah. Kami siap menalangi dulu. Tapi kalau dana itu tidak dianggarkan pemerintah daerah, tentulah kami bingung,’’ ujar Ketua Panitia Lampu Colok Simpang Tiga Desa Sungai Alam, Bengkalis, Firdaus.
Kabar yang sampai ke telinga panitia, memang pemerintah tidak lagi mengalokasikan dana lampu colok. Makanya panitia mengumpul-kan dana dari warga, selain itu juga menjumpa orang yang sukses di Desa Sungai Alam yang kebetulan saat Ramadan ini mereka pulang kampung.
Bisa dikatakan, untuk menyelenggarakan lampu colok malam tujuliko Ramadan tahun 1432 H ini hanya modal nekat. Sebab, modal untuk membeli kayu kerangka bangunan lampu colok saja tidak jelas, siapa yang siap membantu. Belum lagi membeli minyak tanah yang jumlahnya minimal tiga drum. Apalagi minyak tanah langka di Pulau Bengkalis ini, karena beberapa hari lalu pelabuhan penye¬berangan yang biasanya dilalui kapal roro yang mengangkut mobil tanki minyak itu rusak. Dampaknya pasokan minyak tanah ke Pulau Bengkalis pun terhambat. Kelangkaan minyak tanah ini tentunya menjadi masalah bagi panitia lampu colok.
‘’Bisa dikatakan, kami ini nekat, sebab modal belum terkumpul dan minyak tanah pun langka. Entahlah,’’ ujar Firdaus mengeluhkan soal dana dari pemerintah yang belum jelas.
Bagi warga Desa Sungai Alam, walau tidak ada dana, lampu colok akan tetap menyala. Minimal lampu colok dipasang di sekitar rumah, sebagai penerang di saat malam tujuliko. Namun untuk membuat lampu colok yang megah dengan jumlah 5.000 lampu Ramadan ini agak berat.
‘’Kami selaku orang tua, menengok tahun ini agak berat men¬dirikan lampu colok yang megah, tengok saja minyak tanah langka, belum lagi dana belum terkumpul,’’ ujar Sani (68) salah seorang tokoh masyarakat Desa Sungai Alam, Bengkalis.
Dua tahun lalu, ketika Syamsurizal masih memimpin Kabupaten Bengkalis, biasanya menjelang pelaksanaan perayaan lampu colok malam tujuliko, dana sudah cair, panitia pun bersemangat, tapi tahun ini agaknya ragu-ragu, bisa dikatakan nekat mendirikan lampu colok yang megah. Karena untuk membentuk lampu colok yang megah itu minimal memerlukan dana Rp17 juta.
Bukan hanya Sani yang ragu akan pelaksanaan lampu colok Ramadan 1432 Hijriah ini berjalan sukses, tetapi sejumlah warga lainnya pun merasakan kegamangan itu. Dana tidak ada, minyak tanah langka, apa bisa menyelenggarakan lampu colok yang indah?
‘’Jangankah minyak tanah, bensin saja sulit ditemukan. Ya, gara-gara pelabuhan Roro penyeberangan itu rusak, semua keperluan warga pun terhambat masuk ke Pulau Bengkalis. Nah, kalau melaksa¬nakan malam tujuliko dengan lampu colok yang megah, saya anggap itu sulit diwujudkan,’’ ujar Tah Din (46), salah seorang warga Desa Sungai Alam.
Makna Tujuliko
Wan Kiah (83) duduk di dekat temeran lampu colok di depan rumahnya yang sudah dimakan usia. Rumah panggung itu saksi bisu perkembangan lampu calok di Desa Sungai Alam. Walau zaman sudah modern, sudah ada listrik PLN, namun Wan Kiah tetap menyalakan lampu colok di depan rumahnya, pada saat malam tujuliko.
Menurut nenek yang sudah memiliki puluhan cicit ini, masyara¬kat Melayu sudah lama mengenal lampu colok. Khususnya memasuki akhir Ramadan, maksudnya supaya jalan dari rumah menuju ke masjid terang. Selain itu ada juga anggapan, bahwa lampu colok ini untuk menerangi arwah akan datang melihat keluarganya.
‘’Kalau orang tua dulu, lampu colok ini untuk menerangi arwah yang akan datang ke rumah, menjenguk keluarga,’’ ujar Wan Kiah yang sudah uzur ini.
Memang dulunya ada anggapan pemasangan lampu colok ini dikaitkan dengan arwah yang ingin melihat keluarganya, namun anggapan itu sudah hilang. Lebih banyak mereka yang beranggapan bahwa malam tujuliko ini dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar, dimana sebagian hadits menyebutkan pada malam 27 Ramadan ini. Jadi gunanya lampu colok adalah untuk menerangi warga yang akan berangkat ke masjid. Sebab, dulunya tradisi lampu colok ini muncul saat Pulau Bengkalis belum dialiri listrik.
Sebagaimana dijelaskan salah seorang tokoh masyarakat Sungai Alam, H Yussar yang saat ini menjadi Ketua Pengadilan Agama di Ujung Tanjung Kabupaten Rokan Hilir, lampu colok sebelum tahun 1984-an tidak begitu semarak. Warga hanya menggunakan lampu colok secara sederhana, misalnya digunakan untuk penerang ke rumah. Seperti dipasang di sekeliling rumah, sehingga rumah terlihat indah.
‘’Pada saat itu, pemasangan lampu colok di sekeliling rumah, supaya terlihat indah. Sebab belum ada listrik,’’ ujar alumni IAIN Suska ini.
Kalau mengengang masa lalu, saat remajanya, Yussar mengaku banyak yang lucu. Ada kawan yang kelahi gara-gara berebut botol minyak rambut yang ditemukan di dekat parit, sebab dulu jarang sekali botol dan belum ada minuman yang dikemas dalam kaleng minuman. Tapi itulah keindangan masa lalu. Namun tujuan memasang lampu colok itu pada awalnya supaya jalan menuju masjid terang, bukan seperti sekarang ini, hanya untuk keindahan saja.
‘’Makna tujuliko itu ditujukan untuk Malam Lailatul Qadar, dimana sebagian pendapat ulama bahwa malam itu akan turun pada malam-malam ganjil akhir Ramadan, bahkan ada yang menyatakan pada malam 27 Ramadan. Jadi pemasangan lampu colok pada malam tujuliko yang berarti malam 27 Ramadan itu, dimaksudkan agar umat Islam mengisi malam itu dengan memperbanyak ibadah, makanya jalan menuju masjid pun terang, rumah pun terang. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam menyambut malam itu dengan khusyuk,’’ jelas Yussar yang kebetulan pulang kampung ke Sungai Alam saat malam Tujuliko lalu.
Yussar mengingatkan, dasar pemikiran lampu colok ini harus jelas, jangan sampai acara lampu colok yang indah ini disalahar¬tikan oleh generasi muda. Kalau memang dasar pemikirannya untuk menyemarakkan Ramadan, maka ini tidak masalah. Bila perlu di dekat colok itu digelar tabliq akbar atau ceramah, sehingga mereka yang datang menyaksikan lampu colok pun mendapat siraman rohani.
Menurut Yussar, mayoritas ulama berpendapat bahwa datangnya malam Lailatul Qadar adalah setiap tahun, sebab nabi selalu me¬nunggu kehadirannya dan mengimbau ummat Islam ibadah semalam suntuk menanti datangnya pada malam-malam ganjil sepuluh yang terakhir dari pada malam Ramadan. Pendapat pun berbeda-beda dalam hal kedatangannya. Ada yang berpendapat pada malam 27 Ramadan, ada juga yang berpendapat 23, 25, dan 29 Ramadan. Ada juga yang berpendapat tanggal kedatanganya bergantian antara tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29, namun pendapat kebanyakan ulama adalah pada malam 27 Ramadan.
Hal ini sebagaimana diceritakan Abu Yazid al-Bustami: ‘’Aku menyaksikan Lailatul Qadar hanya dua kali sepanjang usiaku, yaitu tepatnya pada malam 27 Ramadan’’. Penyusun kitab Haqaiqul Hanafi itu menjelaskan, bahwa huruf Lailatul Qadar itu adalah 9 buah lafazd Lailatul Qadar itu dituturkan Allah SWT dalam Alquran sebanyak tiga kali, jadi kalau digabungkan 9 x 3 maka menjadi 27. Jadi jatuhnya pada malam 27 Ramadan. Pendapat sebagian ulama ini mungkin yang diapresiasikan warga Bengkalis dalam bentuk memasang lampu colok di malam 27 Ramadan.
Anehnya lagi, malam 27 Ramadan ini disebut tujuliko (berarti tujuhlikor, yakni dalam Bahasa Jawa Likor berarti 20, tujuh likor berarti malam 27). Mengapa menggunakan kata tujuliko, sebab penduduk Bengkalis sebagian Suku Jawa. Ini menunjukkan akulturasi Melayu-Jawa di Pulau Bengkalis sudah berlangsung lama. Demikian sebaliknya, suku Jawa di Bengkalis mereka dalam keseharian berba¬hasa Melayu, sebab bahasa ini sudah menjadi bahasa keseharian sesama mereka. Makanya tidak sedikit bahasa Jawa yang masuk dalam leksikon bahasa Melayu, salah satunya dalam penyebutan malam 27 Ramadan dengan sebutan tujuliko.
Setiap orang di Desa Sungai Alam memiliki memori pengalaman yang berbeda tentang lampu colok. Khususnya bagi kalangan yang sudah berusia di atas 40 tahun, mereka merasakan bagaimana mer¬ayakan lampu colok dengan peralatan seadanya. ‘’Bagi kami yang lahir tahun 1960-an, lampu colok umumnya terbuat dari buluh, sebutan colok itu mungkin karena kalau memasangkan dari satu lampu dengan lampu lainnya dengan cara dicolokkan (lampu yang sudah dinyalakan didekatkan dengan lampu yang belum menyala), makanya disebut lampu colok,’’ ujar Sopyan, warga Bengkalis yang kini bermukim di Sungai Pakning, kebetulan saat malam tujuliko lalu dia pulang kampung ke Sungai Alam.
Menurut Yussar, perayaan lampu colok ini mulai ramai sejak pertengah tahun 1980-an. Sebelumnya, lampu colok hanya terbuat dari buluh (bambu), misalnya buluh dilubangi beberapa ruang kemudian diberi beberapa sumbu dan dipajang di depan rumah atau di jalan menuju ke rumah. Ada juga yang menggunakan buluh yang bercabang, dimana setiap cabangnya dipasang lampu colok, jadi kelihatan indah.
‘’Keindahan itu relatif, saat itu, bentuk lampu colok yang terbuat dari bambu itu sangat indah sekali. Saya sendiri nyaris berkelahi dengan teman gara-gara berebut botol bekas minyak rambut, botol itu bisa digunakan untuk lampu colok,’’ ujarnya.
Perbedaan dulu dengan sekarang, menurut Yussar kalau dulu untuk membentuk corak lampu colok, seperti membentuk masjid, angsa, burung garuda dan lainnya, warga memakai anak pohon karet, karena gampang dibentuk, sekarang cukup dengan membeli kawat duri saja.
‘’Dulu sebelum ada kawat duri, untuk membentuk corak lampu colok yang diinginkan, kami menggunakan anak pohon getah yang batangnya lembut, sehingga mudah dibentuk atau menggunakan anak buluh yang masih muda. Dulu yang ada cuma lampu serongkeng (lampu petromak, red), jadi malam tujuliko itu sangat berkesan. Bahkan jalan menuju wc dan perigi yang jauh di belakang rumah pun dipa-sang lampu colok, senang sekali rasanya,’’ ujar Yussar mengenang masa lalunya.
Di Seluruh Ceruk Pulau
Julianto, warga pesisir Teluk Pambang Kecamatan Bantan pun tak mau ketinggalan. Bahkan menjelang masuk malam 21 Ramadan, jalan menuju ke rumahnya sudah dipasang lampu colok. Kebetulan rumah orang tuanya jauh dari jalan besar, terpaksa jalan kecil di sela-sela pohon kelapa itu pun dipasangnya lampu colok.
Dari jalan aspal ke rumahnya memerlukan minimal 100 lampu colok. Belum lagi lampu colok untuk gapura rumah, sekeliling rumah, perigi dan WC.
Juli tidak perlu harus mengumpulkan kaleng bekas minuman, karena bekas lampu colok tahun lalu dia simpan. ‘’Lampu itu kami simpang di kolong rumah. Cuma yang diganti sumbunya saja,’’ papar Juli.
Sumbu lampu colok yang digunakan warga Pambang agak berbeda dengan warga Sungai Alam —warga Sungai Alam menggunakan sumbu kompor—, warga Pambang menggunakan sumbu dari tali yang berasal goni beras. Mereka menyebutnya goni siam. Goni itu diurai menjadi tali. Tali dari goni siam ini dijadikan sumbu lampu colok.
Bagi warga Pambang, goni siam kegunaannya sangat banyak, salah satunya alat untuk membuat kapal agar tidak bocor. Sebelum kapal didempol, biasanya disela-sela bodi kapal kayu itu diselip¬kan tali goni siam itu, sehingga kapal pun tidak bocor.
Warga Pambang lebih tradisional dalam membuat lampu colok. Posisi Pambang yang jauh dari Kota Bengkalis, terpaksa memanfaat¬kan alam. Misalnya untuk membuat lampu colok, kayu tidak dibeli di panglong (toko kayu), tetapi menebang di hutan dekat kampung.
Sifat gotong royong warga Pambang pun masih tinggi, sebelum mendirikan menara lampu colok, warga biasanya menggelar rapat yang dipimpin RT atau ketua dusun. Rapat dihadiri orang tua dan paling banyak dihadiri pemuda dan remaja, sebab kalangan anak muda ini yang paling banyak berperan.
‘’Setelah rapat pada malam hari, paginya para pemuda langsung mencari kayu mahang di hutan. Walau kayu yang diperlukan banyak, tetapi karena pekerjaan ini dilakukan bersama-sama, rasanya tidak begitu melelahkan,’’ papar bapak satu anak ini.
Mengapa pilihan pada kayu mahang, sebab dibandingkan kayu bakau, kayu mahang lebih mudah dipaku, bentuknya lurus dan rin¬gan. Kayu ini digunakan untuk kerangka menara dan pijakan untuk memasang lampu colok.
Pekerjaan membuat menara lampu secara bertahap. Pada awalnya kerangka menara itu dibentuk dibawah (di lapangan), setelah terbentuk baru diberdirikan. Biasanya dipasang dipinggir jalan. Bahkan model lampu colok (bentuk masjid atau bentuk lainnya) juga dikerjakan di bawah, setelah selesai baru diberdirikan. Hal ini untuk mempermudah pekerjaan. ‘’Kelihatan sederhana, tapi kalau dikerjakan terasa rumit, di sini perlunya satu orang pemandu, supaya pekerjaan ini tidak asal-asalan,’’ paparnya.
Walau Desa Teluk Pambang jarang juara dalam ajang lampu colok ini di Pemkab Bengkalis, tetapi mereka tak mau ketinggalan menye-marakkan malam tujuliko setiap Ramadan. Tidak adanya bantuan pemerintah daerah untuk perayaan lampu colok tahun ini tak menghilangkan semangat warga Teluk Pambang menyambut malam tuju¬liko.
Hal yang sama juga dialami warga Desa Air Putih Kecamatan Bengkalis, sebagai pintu gerbang Pulau Bengkalis, sebab seluruh kenderaan masuk ke Pulau Bengkalis diangkut menggunakan Kapal Roro, dimana posisi pelabuhan Roro ini di Desa Air Putih, maka warga Desa Air Putih pun menyiapkan menara lampu colok yang megah. Biasanya dipasang tak jauh dari Pelabuhan Roro atau di dekat masjid.
Abah Taol, sebagai salah seorang tokoh masyarakat Desa Air Putih pun tak mau ketinggalan. Dia pun siap mensponsori pendanaan pendirian lampu colok di desanya. Karena keterbatasan dana, dan pihak Pemerintah Kabupaten Bengkalis tidak mengalokasikan dana untuk perayaan lampu colok ini, maka swadaya warga sangat diper¬lukan.
‘’Biasanya dana dikumpul dari orang yang mampu, atau para perantau yang dianggap berhasil dan mau membantu, apalagi tahun ini tidak ada bantuan dari pemerintah daerah,’’ ujarnya.
Masalah tidak adanya bantuan pemerintah untuk perayaan lampu colok ini bukan hanya dikeluhkan Desa Air Putih, tetapi 30 desa/ kelurahan lainnya di Pulau Bengkalis. Belakangan ini, Pulau Bengkalis dibagi dua kecamatan, yakni Kecamatan Bengkalis yang terdiri dari Desa Air Putih, Kelapapati, Kelemantan, Ketam Putih, Meskom, Pangkalan Batang, Pedekik, Pematang Duku, Penampi, Pene¬bal, Sebauk, Sungai Alam, Sekodi, Senggoro, Teluk Latak, Temeran, Wonosari. Ditambah tiga kelurahan, yakni Kelurahan Bengkalis Kota, Damon dan Rimba Sekampung.
Sentara Kecamatan Bantan terdiri dari, Desa Bantan Air, Bantan Tengah, Bantan Tua, Jangkang, Kembung Luar, Kembung Dalam, Muntai, Teluk Lancar, Teluk Pambang dan Kelurahan Selatbaru.
Jika setiap desa ada 10 menara lampu colok, dikalikan 5.000 lampu colok, maka jumlah lampu colok yang menyala pada malam tujuliko ini sampai 1,5 juta lampu colok. Maka wajar saja jika dikatakan Bengkalis pulau sejuta colok.
Kontroversi
Perayaan lampu colok ini dianggap mubazir, sehingga Pemerin¬tah Kabupaten Bengkalis tidak menganggarkan acara ini. Mubazir karena dinilai membuang-buang minyak tanah, untuk satu gapura yang megah memerlukan tiga drum lampu colok. Lampu colok itu dinyalakan oleh sebagian warga mulai 21 Ramadan, tetapi sebagian besar mulai 27 Ramadan sampai malam hari raya Idul Fitri. Jadi, minyak tanah tiga drum ini digunakan untuk menyalakan lampu colok selama sepekan.
Sebagian ustad di pulau ini pun mengecam perayaan lampu colok ini, karena selain mubazir, perayaan ini tidak ada faedahnya, dinilai hanya menghambur-hamburkan uang saja. Bahkan pada malam tujuliko yang seharusnya umat Islam meningkatkan amal ibadah, sebagian malah pergi ke jalan hanya untuk menyaksikan keindahan lampu colok. ‘’Bukan untuk meningkatkan amal ibadah, tetapi lampu colok mengurangi orang masuk ke masjid untuk melaksanakan Salat Tarawih. Ini berbeda dengan tujuan membuat lampu itu sendiri, yakni menyambut Malam Lailatul Qadar,’’ ujar Dosen UIN Suska Riau, Aris MAg, pada Riau Pos.
Namun walau dianggap mubazir dan tidak berfaedah, umumnya warga tidak mau perduli, mereka tetap saja merayakan malam tuju¬liko ini dengan lampu colok. ‘’Terserahlah kata mereka, atok-atok kami dulu pun sudah menyalakan lampu colok ini. Kami rasakan keindahannya,’’ ujar Amat (38), warga Desa Penampi Kecamatan Bengkalis. Pada Ramadan 1432 H ini, memang Amat dengan rekan-rekannya membuat lampu colok yang paling megah jika dibandingkan desa lainnya di Pulau Bengkalis, mereka berharap Desa Penampi ini akan menjadi pemenangnya.
Bagi Amat, keindahan lampu colok memang tidak bisa dibanding¬kan dengan keindahan lampu lainnya. Lampu itu menyimpang keinda-han kenangan masa lalu. ‘’Walau sekarang ini banyak dijual lampu listrik yang bisa berkedip-kedip, tapi tak seindah lampu colok. Saya sendiri kalau membeli lampu listrik yang berkedip-kedip itu mampu, tapi secara pribadi saya lebih suka lampu colok,’’ ujar Amat.
Saking senangnya orang dengan lampu colok, kata Amat, kalau ada lampu colok yang padam di menaranya, sehingga bentuknya masjidnya terlihat kurang indah, maka siapa pun yang melihatnya, biasanya tanpa disuruh akan menyalakan lampu colok yang padam itu.
‘’Rasa kekeluargaannya itu ada di lampu colok ini. Orang yang pulang kampung ke Pulau Bengkalis ini pun tak enak rasanya kalau tidak menyaksikan lampu colok,’’ tukasnya.
Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bengkalis Masdaruddin MAg menjelaskan, pada awalnya lampu colok ini diguna-kan untuk menerangi jalan menuju ke masjid, dan menerangi rumah agar nyaman dalam beribadah menyambut Lailatul Qadar. Oleh karena itu, ruh semangat menyambut Lailatul Qadar ini harus tetap dipe¬lihara. Makanya tradisi lampu colok ini layak dilestarikan di Pulau Bengkalis.
‘’Ruhnya harus tetap dipertahankan, yakni untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Soal penyimpangan yang terjadi, itu yang dilarang,’’ ujarnya.
Dalam pada itu Ketua Nahdatul Ulama (NU) Bengkalis, Amrizal MAg menambahkan, tradisi yang baik itu layak dipelihara, sebab Islam masuk ke Indonesia ini melalui tradisi, sehingga mudah diterima. Makanya, makna malam lampu colok tujuliko ini bukan menerangi arwah yang pulang ke rumah, tetapi untuk menyambut malam Lailatul Qadar. ‘’Di sinilah perlunya pijakan dasar mengapa lampu colok itu dirayakan. Sehingga tradisi ini memiliki akar yang jelas, yakni nilai-nilai Islam,’’ ujarnya.
Orang dulu pergi ke masjid atau surau hanya menggunakan andang (daun kalapa yang diikat lalu dibakar), tetapi orang sekarang ke masjid tak perlu lagi menggunakan andang tersebut, sebab jalan sudah terang. Makanya dulu lampu colok ini sangat diperlukan. Untuk itu, kata Amrizal, nilai tradisi lampu colok ini tetap dipertahankan. Ingat, tradisi tidak bisa dinilai dengan uang.
Pandangan seperti ini juga diakui Pak Usu Din (52), yang kebetulan pulang kampung pada Ramadan 1432 H, setelah 20 tahun merantau di Muar, Malaysia. Pak Osu Din bersama istri yang warga Malaysia dan tiga anaknya sengaja pulang ke Desa Sungai Alam untuk menyaksikan lampu colok di malam tujuliko.
‘’Dah lame tak balek, semua dah berubah. Tapi anehnya masih ade lampu colok,’’ ujar Pak Usu Din. Dia berharap agar perayaan malam tujuliko ini tetap dipertahankan, kalau di Muar, Malaysia juga ada, tetapi tak seindah di Bengkalis. Pak Usu Din merantau ke Muar yang kebetulan posisi Muar di tepi laut Selat Melaka yang berhadapan lansung dengan Pulau Bengkalis. Makanya tradisi lampu colok juga ada di Muar.
Ini mengindikasikan tradisi lampu colok menyebar sekitar pulau-pulau di Selat Melaka, bahkan di Tanjung Balai Karimun, tradisi lampu colok juga semarak, bahkan diperlombakan. Posisi Tanjung Balai Karimun masih di wilayah Selat Melaka, jadi tak jauh dari Bengkalis.
Tak jauh bedanya di Pulau Rangsang, Kota Selatpanjang di Pulau Tebing Tinggi, Pulau Merbau, Pulau Padang, bahkan sampai pesisir Sumatera di Bagansiapi-api dan Kota Pekanbaru, perayaan lampu colok di wilayah sudah diperlombakan, bahkan dialokasikan di APBD kabupaten/ kota masing-masing.
‘’Kalau di tempat lain lampu colok didanai APBD, mengapa di kampung asal lampu colok ini tidak dianggarkan. Kan lucu,’’ ujar Wak Amir (60), warga Sungai Alam.
Tradisi lampu colok tidak lagi dikenal hanya di Bengkalis tetapi sejumlah kabupaten bahkan Provinsi Kepulauan Riau pun menggelar lomba lampu colok. Di Kota Pekanbaru, setiap tahun digelar lomba lampu colok, biasanya hadiahnya diserahkan usai Hari Raya Idul Fitri, bersamaan dengan pengumuman pemenang lomba pawai takbiran.
Malam Gemerlapan
Usai Shalat Tarawih, Buntat (36) dan keluarganya mulai risau. Dia tak sabar melihat pembukaan lampu colok di Simpang Tiga Desa Sungai Alam. Kabarnya, Bupati Bengkalis H Herliyan Saleh MSi akan menghadiri perayaan lampu colok di malam tujuliko itu.
Bersama keluarga dia pun keluar rumah menggendarai sepeda motor, jalan menuju Sungai Alam macet, tersebab acara akan dimu¬lai. Di sepanjang jalan menuju Desa Sungai Alam nampak lampu colok yang berbentuk gapura. Di sisi kanan dan kiri jalan, terli¬hat ketupat besar yang berisikan lampu colok. Acara lampu colok ini sengaja dimulai setelah Shalat Tarawih agar tidak mengganggu jamaah Shalat Tarawih.
‘’Rasanya kurang pas, kalau pulang kampung tidak menengok lampu colok,’’ ujar Buntat, yang merantu ke Kota Dumai sejak masa lajang.
Dari kejauhan, memang kalau dilihat sepintas lalu, menara lampu colok itu seperti bangunan masjid sesunguhnya. Seperti sebuah masjid yang megah berkilau, ada menara yang menjulang tinggi, ada jendela, pintu, bahkan tangga masjid pun ada. Maka tak jarang, warga yang melalui menara lampu colok ini, langsung memotonya atau merekam dengan handphone, untuk mengabadikan momen tersebut.
Pada malam itu, ribuan warga ikut memadati pembukaan lampu colok dekat Masjid Al-Huda Sungai Alam, macet memang sudah pasti. Setiap warga bukan ingin melihat pejabat yang hadir, tetapi bentuk lampu colok yang ditampilkan warga Sungai Alam. Walau sebenarnya pada malam tujuliko itu kemeriahan tidak hanya di Desa Sungai Alam, di ujung ceruk Pulau Bengkalis ini semuanya menyala¬kan lampu colok. Bahkan di Desa Penampi, yang posisinya di ujung Bengkalis, penampilan lampu coloknya sangat indah. Kabarnya, keindahannya mengalahkan desa lain.
Dalam kata sambutan, Bupati Bengkalis Herliyan ternyata tetap mendukung tradisi lampu colok ini, dugaan warga selama ini tern¬yata salah. Bahkan Herliyan menjanjikan hadiah bagi lampu colok yang terbaik. Bagi juara pertama, akan mendapatkan hadiah Rp8 juta.
‘’Alhamdulillah, ternyata ada hadiahnya. Semoga saja Desa Sungai Alam menjadi pemenangnya,’’ ujar Kepala Desa Sungai Alam, Herman, mendengarkan kata sambutan Bupati.
Herman yakin, desanya akan menjadi pemenang lomba lampu colok tahun 2011 ini, walau lampu colok di Desa Penampi lebih indah, tetapi lampu colok di Sungai Alam lebih bervariasi, mulai dari gerbang masuk ke desa sampai ujung desa, seluruhnya dihiasi lampu colok. Sementara di desa lainnya tidak seperti ini. Pema¬sangan lampu colok di Sungai Alam merata sampai gang masuk ke rumah.
Harapan Herman selaku kepala desa sangat wajar, sebab dana untuk menyelenggaraan lampu colok di desanya swadaya warga, tidak ada bantuan dari pemerintah. Maka satu-satunya harapan untuk menutupi kekurangan dana adalah dengan cara meraih juara I.
Ketulusan warga Sungai Alam menyelenggarakan lampu colok akhirnya membuahkan hasil. Hasil penilaian tim Pemkab Bengkalis, ternyata memutuskan bahwa Desa Sungai Alam, sebagai pemenang I. Panitia dan warga pun menyambut gembira, rasa lelah dan penat pun hilang seketika.
Di ujung Masjid Alhuda, nampak Firdaus, selaku ketua panitia lampu colok itu tersenyum sendiri. ‘’Lepas lelah sudah, akhirnya Sungai Alam kembali juara,’’ ujarnya.
Bagi sebagian orang, lampu yang terbuat dari bekas minuman kaleng ini tidak ada artinya. Tetapi bagi warga di Pulau Bengka¬lis, lampu ini menyimpang pesona yang tak ada duanya.***

0 komentar: on "Pulau Sejuta Lampu Colok"
Posting Komentar