MEDAN (RP) - Setelah tiga hari, akhirnya tim evakuasi mampu mencapai lokasi jatuhnya pesawat Casa 212-200 yang celaka di Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis lalu (29/9). Sayang, keberhasilan mencapai lokasi tidak dibarengi kabar menggembirakan.
Sebab, yang ditemukan tim hanyalah pesawat yang telah hancur beserta seluruh penumpangnya �berjumlah 18 orang, termasuk kru� yang telah jadi mayat.
�Dari pencarian yang kami lakukan sampai di lokasi jatuhnya pesawat, awak dan penumpang semua meninggal dunia,� kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo di Lanud Polonia, Medan, Sabtu (1/10).
Menurut Daryatmo, saat ditemukan, kondisi pesawat Casa milik maskapai PT Nusantara Buana Air (NBA) itu sangat mengenaskan. Badan pesawat yang terlihat dari udara masih utuh ternyata hancur.
Bagian depan pesawat hancur; sayap bagian kanan dan kiri patah; ekor pesawat juga patah dan tersangkut di pohon.
Ke-14 penumpang dan empat kru tewas dalam posisi terduduk di kursi masing-masing. Sementara pintu pesawat tertutup. �Kondisi seluruh penumpang tewas di posisi masing-masing,� ucap Daryatmo.
Kata dia, diperkirakan korban tewas akibat hantaman pesawat yang menabrak pepohonan. Saat itu kecepatan pesawat antara 130-140 knot per jam. �Saat pesawat menabrak pepohonan, saat itu penumpang tewas,� kata Daryatmo.
Seperti diketahui, sebelumnya tim evakuasi mengalami kendala untuk mencapai lokasi karena tempatnya yang jauh dan medan yang sangat sulit ditembus melalui jalur darat. Sehingga dibutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di lokasi.
Pesawat Casa buatan 1989 itu berpenumpang 14 orang, empat di antaranya anak-anak serta empat kru. Pesawat berangkat dari Bandara Polonia pukul 07.28 WIB Kamis lalu.
Pesawat yang seharusnya tiba di Bandara Alas Leuser, Kuta Cane, Aceh Tenggara, itu kehilangan kontak sepuluh menit sebelum mendarat.
Untuk mengevakuasi korban, tim rencananya membawa mereka ke Bahorok, kemudian baru diterbangkan dengan helikopter ke Medan. Di Medan seluruh jenazah akan dibawa ke RS Adam Malik untuk dilakukan identifikasi.
Namun, cuaca buruk benar-benar menjadi hambatan terbesar bagi tim penolong. Sekitar pukul 13.00, saat tim masih sibuk melakukan evakuasi, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti bukit Bahorok.
Evakuasi pun terpaksa dihentikan. Padahal, belum ada satu pun jenazah korban yang berhasil diangkat dari lokasi kejadian. �Cuaca lagi buruk. Lokasi pesawat ditutupi awan tebal sehingga membuat evakuasi dihentikan. Kapan dilakukan evakuasi lagi, belum tahu,� ungkapnya.
Ya, Bahorok memang terkenal dengan anginnya yang mengerikan, yang sering memorak-porandakan areal persawahan dan perkebunan warga. Belum lagi cuaca yang tiba-tiba bisa berubah secara drastis.
Itu pula yang terjadi kemarin. Cuaca yang sebelumnya panas terik dalam sekejap berubah menjadi mendung, berkabut, dan angin bertiup kencang.
Hal tersebut yang memaksa tim penolong menghentikan evakuasinya. Sebab, dengan kondisi seperti itu, helikopter penolong tidak bisa menurunkan tim ke dalam hutan.
Meski demikian, tim evakuasi beranggota 14 orang yang sudah diterjunkan kemarin pagi terus berupaya membuka jalan. Tim yang terdiri atas SAR, Brimob, dan TNI itu juga membawa logistik guna bermalam di tempat jatuhnya pesawat.
Mereka juga dilengkapi dengan gergaji mesin yang akan dipergunakan untuk membuka hutan agar helikopter penolong yang direncanakan meluncur pagi ini dapat mendarat di dekat lokasi.
Sebab, mengevakuasi para korban tidak bisa dilakukan dengan jalan darat. Karena itu, seluruh anggota tim yang tadi malam bermalam tak jauh dari jatuhya pesawat harus bekerja ekstrakeras menebangi hutan untuk membuat helipad.
Namun, anggota tim yang sudah mengetahui dan melihat pesawat secara langsung juga tidak dapat berbuat banyak. Sebab, jika salah langkah sedikit saja, pesawat yang berada di lereng bukit tersebut dapat terjatuh ke jurang dan itu bisa memperparah keadaan.
Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama TNI Sunarbowo Sandi yang berada di Posko SMP Negeri 1 Pekan, Bahorok, Kabupaten Langkat, mengatakan bahwa tim tengah berusaha mengeluarkan seluruh korban dari dalam pesawat. Menurut dia, evakuasi melalui jalur darat sulit dilakukan. Sebab, posisi pesawat berada di bukit yang terpotong.
�Maka, tadi kita sarankan untuk menarik seluruh tim yang melakukan penyisiran dari jalur darat. Sebab, posisi pesawat berada di antara bukit yang terpotong. Jangan sampai nanti tim SAR malah jadi di-SAR,� tutur Sunarbowo.
Mengenai kondisi pesawat saat ini, Sunarbowo juga mengatakan, kondisi pesawat di bagian depan hancur karena terkena benturan keras pada dinding gunung. �Untuk posisi di depan, kita harus memotong kursi pesawat,� ucapnya.
Sementara itu, soal anggapan lambatnya evakuasi, Daryatmo membantahnya.
�Tidak, kita sudah melakukan dengan baik dan sesuai dengan prosedur. Karena posisi pesawat yang bagian depan dan belakang masih nyangkut di pohon, kalau tidak hati- hati, pesawat akan masuk jurang lagi,� bebernya.
Daryatmo juga membantah kabar bahwa ada korban yang sempat melakukan komunikasi dengan telepon seluler dan berasumsi bahwa korban masih hidup.
�Saya mengerti hal itu. Namun, dari hasil observasi pesawat, kecil kemungkinan selamat. Tidak benar korban yang sempat menelepon melambai-lambaikan tangan,� jelasnya.
Evakuasi Lambat, Keluarga Kecewa
Keluarga korban menyatakan kecewa atas lambannya evakuasi. Mereka meyakini, kelambanan itu ikut andil dalam tewasnya seluruh penumpang pesawat Casa yang jatuh tiga hari lalu tersebut.
Bahkan, tak sedikit anggota keluarga yang menyebut pihak-pihak terkait tidak respek terhadap kejadian tersebut. Karena itu, atas inisiatif sendiri, mereka berangkat menuju Bahorok, tempat jatuhnya pesawat.
�Saya sebut kurang respek bukan karena emosional. Namun, fakta yang terjadi saat itu, Sekdakab Agara dan wakil bupati pun hanya bisa melakukan rapat koordinasi di Bandara Alas Leuser. Mereka bahkan tidak melakukan upaya yang meyakinkan, selain menunggu informasi saja,� ujar Djumidan, ayah Dr Suhelman, anggota DPRK Aceh Tenggara.
Suhelman tewas bersama sang istri, Dr Juli Dahliana. �Bahkan, posko yang dibentuk tidak memiliki fasilitas pendukung, sehingga kami memutuskan untuk berangkat mencari korban,� tegasnya.
Kekecewaan juga ditujukan kepada pihak maskapai penerbangan, PT NBA. Maskapai itu dinilai tidak peduli terhadap keluarga korban yang berangkat sendiri menuju Bahorok.
�Sejak keberangkatan dari Kutacane menuju Bahorok, hingga hari ini kami masih menggunakan biaya sendiri. Di sini sangat terlihat bahwa PT NBA sama sekali tidak memiliki tanggung jawab terhadap musibah,� kata Jun, adik Suryadi, salah seorang korban.
�Mereka tidak menunjukkan iktikad baik dengan memfasilitasi keluarga korban sebagaimana halnya maskapai penerbangan lain,� lanjutnya.
Di posko Bandara Polonia, Medan, kemarin dua anggota keluarga korban berteriak histeris, lalu pingsan.
�Kami harus tuntut NBA. Kalau bantuan cepat datang, pasti mereka masih bisa diselamatkan. Kenapa semalam tidak langsung datang bantuan? Ya Allah, mati kelaparanlah kalian di hutan sana, ya. Ya Allah, kasihannya kalian. Ya Allah,� pekik seorang ibu yang kehilangan tiga kerabat.
Junanda (38), guru SMAN Kotacane yang kehilangan sang istri, Syamsidar Yusni, 27, pegawai Dinas Perpajakan Kotacane, serta dua anaknya, Hamimatul Zahanah, 5, dan Hamid Abdulah, 3, juga tak kuasa mendengar kabar pilu itu.
Pria yang sejak hari pertama kecelakaan berada di posko tersebut itu langsung pingsan begitu mengetahui bahwa tak ada seorang pun korban yang selamat dalam pesawat. Keluarga dan rekan-rekan yang mendampingi sejak kemarin bersusah payah menenangkan Junanda, yang hidungnya langsung dipasangi oksigen.
�Bangun kau, Amang. Kau tengok anakmu dulu. Itu, mereka datang. Bangun, Amang,� teriak salah seorang anggota keluarga Junanda sambil mengoyang-goyangkan tubuh pria itu.
Menurut keluarga, Sabtu lalu (24/9) Syamsidar Yusni dan dua anaknya pergi ke Medan untuk menghadiri undangan kantor sekalian menjenguk keluarga, sedangkan Junanda menyusul istri dan anaknya tersebut lewat jalan darat.
Karena harus mengajar Senin (26/9), Junanda pulang terlebih dahulu ke Kotacane. Ayah dua anak tersebut berangkat dari Medan Ahad (25/9) lalu, sedangkan istri dan anaknya menyusul dengan naik pesawat.
Pekik histeris juga keluar dari bibir Selpi (11), yang kehilangan ayah dan ibu. �Kenapa papaku? Kenapa papaku?� teriaknya dalam pelukan seorang kerabat yang juga menangis. �Mana papa? Mana mamaku? Kenapa mamaku? Mana papaku?� jerit dia. Selpi merupakan anak Dr Suhelman (45) dan Dr Juli Dahliana.
Menyikapi kekecewaan keluarga korban, Ketua Basarnas Marsekal Madya TNI Dariyatmo menyatakan, berdasar hasil pencarian tim SAR, posisi korban memang sudah meningal. Menurut dia, saat kecelakaan, kecepatan pesawat 130 sampai 140 knot. Dengan kecepatan itu, jika membentur lereng bukit, akibatnya fatal.
Menurut perhitungan Basarnas, para penumpang meningal seketika. Itu bisa dilihat dari gambar pesawat. Hidung pesawat hancur, sayapnya patah, bagian punggungnya melengkung.
Semua itu, papar Dariyatmo, harus dipahami agar tidak ada spekulasi macam-macam.
�Sebab, kami (Basarnas, red), Bapak Kapolda, Pangdam, Danrem, dan semua pihak, tidak punya pilihan lain, selain memberikan bantuan secepatnya. Tapi, apalah daya manusia. Dengan kendala yang ada, termasuk faktor cuaca dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan, Basarnas sampai ke lokasi,� ujarnya.
Bukan hanya itu. Saat evakuasi kondisi angin sangat kencang. Lokasi jatuhnya pesawat memiliki kemiringan 70 derajat sehingga evakuasi sangat sulit. Bahkan, pasukan yang melakukan penyisiran melalui darat akhirnya ditarik karena kondisi tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan.
Dariyatmo menjelaskan, akibat kecelakaan itu, pesawat berada di lereng bukit, di antara pepohonan, dengan kondisi kepala hancur serta sayap dan bagian ekor patah.
�Sehingga kami mohon waktu untuk melakukan evakuasi. Sebab, kalau tidak berhati-hati, bisa timbul risiko baru,� ucapnya.(ris/min/jpnn/c9/nw)
Sebab, yang ditemukan tim hanyalah pesawat yang telah hancur beserta seluruh penumpangnya �berjumlah 18 orang, termasuk kru� yang telah jadi mayat.
�Dari pencarian yang kami lakukan sampai di lokasi jatuhnya pesawat, awak dan penumpang semua meninggal dunia,� kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo di Lanud Polonia, Medan, Sabtu (1/10).
Menurut Daryatmo, saat ditemukan, kondisi pesawat Casa milik maskapai PT Nusantara Buana Air (NBA) itu sangat mengenaskan. Badan pesawat yang terlihat dari udara masih utuh ternyata hancur.
Bagian depan pesawat hancur; sayap bagian kanan dan kiri patah; ekor pesawat juga patah dan tersangkut di pohon.
Ke-14 penumpang dan empat kru tewas dalam posisi terduduk di kursi masing-masing. Sementara pintu pesawat tertutup. �Kondisi seluruh penumpang tewas di posisi masing-masing,� ucap Daryatmo.
Kata dia, diperkirakan korban tewas akibat hantaman pesawat yang menabrak pepohonan. Saat itu kecepatan pesawat antara 130-140 knot per jam. �Saat pesawat menabrak pepohonan, saat itu penumpang tewas,� kata Daryatmo.
Seperti diketahui, sebelumnya tim evakuasi mengalami kendala untuk mencapai lokasi karena tempatnya yang jauh dan medan yang sangat sulit ditembus melalui jalur darat. Sehingga dibutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di lokasi.
Pesawat Casa buatan 1989 itu berpenumpang 14 orang, empat di antaranya anak-anak serta empat kru. Pesawat berangkat dari Bandara Polonia pukul 07.28 WIB Kamis lalu.
Pesawat yang seharusnya tiba di Bandara Alas Leuser, Kuta Cane, Aceh Tenggara, itu kehilangan kontak sepuluh menit sebelum mendarat.
Untuk mengevakuasi korban, tim rencananya membawa mereka ke Bahorok, kemudian baru diterbangkan dengan helikopter ke Medan. Di Medan seluruh jenazah akan dibawa ke RS Adam Malik untuk dilakukan identifikasi.
Namun, cuaca buruk benar-benar menjadi hambatan terbesar bagi tim penolong. Sekitar pukul 13.00, saat tim masih sibuk melakukan evakuasi, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti bukit Bahorok.
Evakuasi pun terpaksa dihentikan. Padahal, belum ada satu pun jenazah korban yang berhasil diangkat dari lokasi kejadian. �Cuaca lagi buruk. Lokasi pesawat ditutupi awan tebal sehingga membuat evakuasi dihentikan. Kapan dilakukan evakuasi lagi, belum tahu,� ungkapnya.
Ya, Bahorok memang terkenal dengan anginnya yang mengerikan, yang sering memorak-porandakan areal persawahan dan perkebunan warga. Belum lagi cuaca yang tiba-tiba bisa berubah secara drastis.
Itu pula yang terjadi kemarin. Cuaca yang sebelumnya panas terik dalam sekejap berubah menjadi mendung, berkabut, dan angin bertiup kencang.
Hal tersebut yang memaksa tim penolong menghentikan evakuasinya. Sebab, dengan kondisi seperti itu, helikopter penolong tidak bisa menurunkan tim ke dalam hutan.
Meski demikian, tim evakuasi beranggota 14 orang yang sudah diterjunkan kemarin pagi terus berupaya membuka jalan. Tim yang terdiri atas SAR, Brimob, dan TNI itu juga membawa logistik guna bermalam di tempat jatuhnya pesawat.
Mereka juga dilengkapi dengan gergaji mesin yang akan dipergunakan untuk membuka hutan agar helikopter penolong yang direncanakan meluncur pagi ini dapat mendarat di dekat lokasi.
Sebab, mengevakuasi para korban tidak bisa dilakukan dengan jalan darat. Karena itu, seluruh anggota tim yang tadi malam bermalam tak jauh dari jatuhya pesawat harus bekerja ekstrakeras menebangi hutan untuk membuat helipad.
Namun, anggota tim yang sudah mengetahui dan melihat pesawat secara langsung juga tidak dapat berbuat banyak. Sebab, jika salah langkah sedikit saja, pesawat yang berada di lereng bukit tersebut dapat terjatuh ke jurang dan itu bisa memperparah keadaan.
Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama TNI Sunarbowo Sandi yang berada di Posko SMP Negeri 1 Pekan, Bahorok, Kabupaten Langkat, mengatakan bahwa tim tengah berusaha mengeluarkan seluruh korban dari dalam pesawat. Menurut dia, evakuasi melalui jalur darat sulit dilakukan. Sebab, posisi pesawat berada di bukit yang terpotong.
�Maka, tadi kita sarankan untuk menarik seluruh tim yang melakukan penyisiran dari jalur darat. Sebab, posisi pesawat berada di antara bukit yang terpotong. Jangan sampai nanti tim SAR malah jadi di-SAR,� tutur Sunarbowo.
Mengenai kondisi pesawat saat ini, Sunarbowo juga mengatakan, kondisi pesawat di bagian depan hancur karena terkena benturan keras pada dinding gunung. �Untuk posisi di depan, kita harus memotong kursi pesawat,� ucapnya.
Sementara itu, soal anggapan lambatnya evakuasi, Daryatmo membantahnya.
�Tidak, kita sudah melakukan dengan baik dan sesuai dengan prosedur. Karena posisi pesawat yang bagian depan dan belakang masih nyangkut di pohon, kalau tidak hati- hati, pesawat akan masuk jurang lagi,� bebernya.
Daryatmo juga membantah kabar bahwa ada korban yang sempat melakukan komunikasi dengan telepon seluler dan berasumsi bahwa korban masih hidup.
�Saya mengerti hal itu. Namun, dari hasil observasi pesawat, kecil kemungkinan selamat. Tidak benar korban yang sempat menelepon melambai-lambaikan tangan,� jelasnya.
Evakuasi Lambat, Keluarga Kecewa
Keluarga korban menyatakan kecewa atas lambannya evakuasi. Mereka meyakini, kelambanan itu ikut andil dalam tewasnya seluruh penumpang pesawat Casa yang jatuh tiga hari lalu tersebut.
Bahkan, tak sedikit anggota keluarga yang menyebut pihak-pihak terkait tidak respek terhadap kejadian tersebut. Karena itu, atas inisiatif sendiri, mereka berangkat menuju Bahorok, tempat jatuhnya pesawat.
�Saya sebut kurang respek bukan karena emosional. Namun, fakta yang terjadi saat itu, Sekdakab Agara dan wakil bupati pun hanya bisa melakukan rapat koordinasi di Bandara Alas Leuser. Mereka bahkan tidak melakukan upaya yang meyakinkan, selain menunggu informasi saja,� ujar Djumidan, ayah Dr Suhelman, anggota DPRK Aceh Tenggara.
Suhelman tewas bersama sang istri, Dr Juli Dahliana. �Bahkan, posko yang dibentuk tidak memiliki fasilitas pendukung, sehingga kami memutuskan untuk berangkat mencari korban,� tegasnya.
Kekecewaan juga ditujukan kepada pihak maskapai penerbangan, PT NBA. Maskapai itu dinilai tidak peduli terhadap keluarga korban yang berangkat sendiri menuju Bahorok.
�Sejak keberangkatan dari Kutacane menuju Bahorok, hingga hari ini kami masih menggunakan biaya sendiri. Di sini sangat terlihat bahwa PT NBA sama sekali tidak memiliki tanggung jawab terhadap musibah,� kata Jun, adik Suryadi, salah seorang korban.
�Mereka tidak menunjukkan iktikad baik dengan memfasilitasi keluarga korban sebagaimana halnya maskapai penerbangan lain,� lanjutnya.
Di posko Bandara Polonia, Medan, kemarin dua anggota keluarga korban berteriak histeris, lalu pingsan.
�Kami harus tuntut NBA. Kalau bantuan cepat datang, pasti mereka masih bisa diselamatkan. Kenapa semalam tidak langsung datang bantuan? Ya Allah, mati kelaparanlah kalian di hutan sana, ya. Ya Allah, kasihannya kalian. Ya Allah,� pekik seorang ibu yang kehilangan tiga kerabat.
Junanda (38), guru SMAN Kotacane yang kehilangan sang istri, Syamsidar Yusni, 27, pegawai Dinas Perpajakan Kotacane, serta dua anaknya, Hamimatul Zahanah, 5, dan Hamid Abdulah, 3, juga tak kuasa mendengar kabar pilu itu.
Pria yang sejak hari pertama kecelakaan berada di posko tersebut itu langsung pingsan begitu mengetahui bahwa tak ada seorang pun korban yang selamat dalam pesawat. Keluarga dan rekan-rekan yang mendampingi sejak kemarin bersusah payah menenangkan Junanda, yang hidungnya langsung dipasangi oksigen.
�Bangun kau, Amang. Kau tengok anakmu dulu. Itu, mereka datang. Bangun, Amang,� teriak salah seorang anggota keluarga Junanda sambil mengoyang-goyangkan tubuh pria itu.
Menurut keluarga, Sabtu lalu (24/9) Syamsidar Yusni dan dua anaknya pergi ke Medan untuk menghadiri undangan kantor sekalian menjenguk keluarga, sedangkan Junanda menyusul istri dan anaknya tersebut lewat jalan darat.
Karena harus mengajar Senin (26/9), Junanda pulang terlebih dahulu ke Kotacane. Ayah dua anak tersebut berangkat dari Medan Ahad (25/9) lalu, sedangkan istri dan anaknya menyusul dengan naik pesawat.
Pekik histeris juga keluar dari bibir Selpi (11), yang kehilangan ayah dan ibu. �Kenapa papaku? Kenapa papaku?� teriaknya dalam pelukan seorang kerabat yang juga menangis. �Mana papa? Mana mamaku? Kenapa mamaku? Mana papaku?� jerit dia. Selpi merupakan anak Dr Suhelman (45) dan Dr Juli Dahliana.
Menyikapi kekecewaan keluarga korban, Ketua Basarnas Marsekal Madya TNI Dariyatmo menyatakan, berdasar hasil pencarian tim SAR, posisi korban memang sudah meningal. Menurut dia, saat kecelakaan, kecepatan pesawat 130 sampai 140 knot. Dengan kecepatan itu, jika membentur lereng bukit, akibatnya fatal.
Menurut perhitungan Basarnas, para penumpang meningal seketika. Itu bisa dilihat dari gambar pesawat. Hidung pesawat hancur, sayapnya patah, bagian punggungnya melengkung.
Semua itu, papar Dariyatmo, harus dipahami agar tidak ada spekulasi macam-macam.
�Sebab, kami (Basarnas, red), Bapak Kapolda, Pangdam, Danrem, dan semua pihak, tidak punya pilihan lain, selain memberikan bantuan secepatnya. Tapi, apalah daya manusia. Dengan kendala yang ada, termasuk faktor cuaca dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan, Basarnas sampai ke lokasi,� ujarnya.
Bukan hanya itu. Saat evakuasi kondisi angin sangat kencang. Lokasi jatuhnya pesawat memiliki kemiringan 70 derajat sehingga evakuasi sangat sulit. Bahkan, pasukan yang melakukan penyisiran melalui darat akhirnya ditarik karena kondisi tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan.
Dariyatmo menjelaskan, akibat kecelakaan itu, pesawat berada di lereng bukit, di antara pepohonan, dengan kondisi kepala hancur serta sayap dan bagian ekor patah.
�Sehingga kami mohon waktu untuk melakukan evakuasi. Sebab, kalau tidak berhati-hati, bisa timbul risiko baru,� ucapnya.(ris/min/jpnn/c9/nw)

0 komentar: on "Semua Penumpang Casa Tewas"
Posting Komentar