JAKARTA (RP)- Masa menunggu pengumuman 67 ribu tenaga honorer yang dijanjikan akan diangkat jadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Oktober 2011, dimanfaatkan para calo untuk mengincar mangsa.
Buktinya, Senin (26/9) ada salah seorang korban mendatangi gedung Kemendagri, mengecek ada tidaknya nama Dacos Kosasih, yang mengaku pegawai Bagian Litbang Kemendagri dan kenal dekat dengan Sekjen Kemendagri, Diah Anggraeni.
Pria ini mengaku adik iparnya dan dijanjikan bisa diangkat
jadi CPNS oleh pelaku, dengan setor Rp70 juta. Sialnya, ada 13 korban lainnya yang ‘diurus’ pelaku, dengan menyetor Rp70 juta hingga Rp100 juta.
Sejumlah petugas penerima tamu Kemendagri, termasuk salah seorang staf sekjen, langsung memastikan tak ada nama Dacos Kosasih di Bagian Litbang Kemendagri.
Petugas juga meyakinkan itu ulah penipu yang mengaku kenal Diah, lantaran korban juga diberi alamat yang ganjil. Korban menyantumkan alamat kerjanya di Kavling IV Kemendagri. Padahal, gedung-gedung yang dipimpin Gamawan Fauzi itu tak mengenai pembagian dengan istilah kavling.
‘’Siapapun bisa jual nama. Nggak ada itu, namanya saja penipu. Ini tak hanya sekali dua kali,’’ ujar Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek saat ditanya JPNN.
Donny, panggilan Reydonnyzar, menduga, para calo beroperasi memanfaatkan masa tunggu pengumuman tenaga honorer jadi CPNS.
‘’Saya imbau para tenaga honorer tak tergiur dengan rayuan-rayuan orang yang tak jelas identitasnya. Berhati-hatilah terhadap rayuan pihak-pihak yang mengatasnamakan atau mengaku kenal dengan pejabat atau staf Kemendagri,’’ imbuh Donny.
Donny menyarankan, pihak-pihak yang merasa jadi korban penipuan, mengadukan saja secara resmi ke Kemendagri, asal data dan dokumennya bisa dipertanggungjawabkan. ‘’Harus jelas, apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, mengapa, dan berapa,’’ ujarnya.
Sebelumnya, Kamis (22/9), Wakil Ketua Komisi II DPR RI Taufik Effendi dalam rapat kerja dengan Menpan-RB EE Mangindaan, sudah menyebut maraknya praktik percaloan CPNS.
‘’Dari laporan yang masuk menyebutkan adanya praktik jual beli formasi pegawai antara oknum-oknum otoritas kepegawaian di pusat dengan para pimpinan daerah,’’ ungkap Taufik Effendi saat itu.
Mantan Menpan-RB itu menyebutkan, formasi yang diperoleh dengan modal Rp5-10 juta per pegawai tersebut kemudian dijual oleh pejabat berwenang di daerah dengan harga berlipat-lipat lebih mahal. Besarnya antara Rp75 juta sampai Rp150 juta tergantung posisinya dan jabatannya.(sam/jpnn)
Buktinya, Senin (26/9) ada salah seorang korban mendatangi gedung Kemendagri, mengecek ada tidaknya nama Dacos Kosasih, yang mengaku pegawai Bagian Litbang Kemendagri dan kenal dekat dengan Sekjen Kemendagri, Diah Anggraeni.
Pria ini mengaku adik iparnya dan dijanjikan bisa diangkat
jadi CPNS oleh pelaku, dengan setor Rp70 juta. Sialnya, ada 13 korban lainnya yang ‘diurus’ pelaku, dengan menyetor Rp70 juta hingga Rp100 juta.
Sejumlah petugas penerima tamu Kemendagri, termasuk salah seorang staf sekjen, langsung memastikan tak ada nama Dacos Kosasih di Bagian Litbang Kemendagri.
Petugas juga meyakinkan itu ulah penipu yang mengaku kenal Diah, lantaran korban juga diberi alamat yang ganjil. Korban menyantumkan alamat kerjanya di Kavling IV Kemendagri. Padahal, gedung-gedung yang dipimpin Gamawan Fauzi itu tak mengenai pembagian dengan istilah kavling.
‘’Siapapun bisa jual nama. Nggak ada itu, namanya saja penipu. Ini tak hanya sekali dua kali,’’ ujar Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek saat ditanya JPNN.
Donny, panggilan Reydonnyzar, menduga, para calo beroperasi memanfaatkan masa tunggu pengumuman tenaga honorer jadi CPNS.
‘’Saya imbau para tenaga honorer tak tergiur dengan rayuan-rayuan orang yang tak jelas identitasnya. Berhati-hatilah terhadap rayuan pihak-pihak yang mengatasnamakan atau mengaku kenal dengan pejabat atau staf Kemendagri,’’ imbuh Donny.
Donny menyarankan, pihak-pihak yang merasa jadi korban penipuan, mengadukan saja secara resmi ke Kemendagri, asal data dan dokumennya bisa dipertanggungjawabkan. ‘’Harus jelas, apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, mengapa, dan berapa,’’ ujarnya.
Sebelumnya, Kamis (22/9), Wakil Ketua Komisi II DPR RI Taufik Effendi dalam rapat kerja dengan Menpan-RB EE Mangindaan, sudah menyebut maraknya praktik percaloan CPNS.
‘’Dari laporan yang masuk menyebutkan adanya praktik jual beli formasi pegawai antara oknum-oknum otoritas kepegawaian di pusat dengan para pimpinan daerah,’’ ungkap Taufik Effendi saat itu.
Mantan Menpan-RB itu menyebutkan, formasi yang diperoleh dengan modal Rp5-10 juta per pegawai tersebut kemudian dijual oleh pejabat berwenang di daerah dengan harga berlipat-lipat lebih mahal. Besarnya antara Rp75 juta sampai Rp150 juta tergantung posisinya dan jabatannya.(sam/jpnn)

0 komentar: on "Awas, Calo Pengumuman Honorer Jadi PNS"
Posting Komentar