Lampu colok yang berbentuk masjid dan menaranya, namun tidak sempurna, kerena malam tujuliko saat itu angin kencang. (Foto: JARIR AMRUN/ RIAU POS) |
Laporan JARIR AMRUN, Bengkalis
jarir@riaupos.com
Apakah pekerjaan membantu memasang lampu colok ini dibayar? Tafa sambil tersenyum nyengir mengaku pekerjaan ini tidak dibayar sepeser pun. ‘’Tak ade do pak, paling kalau menang dapat kain sarung,’’ ujar Tafa yang memiliki nama lengkap Mustafa ini, Ahad (21/8).
Memang lampu colok yang menjadi tradisi di Bengkalis ini diperlombakan, bahkan hadiahnya sampai Rp5 juta lebih. Tapi modal untuk mendirikan lampu colok ini bisa mencapai Rp15 hingga Rp20 juta. Jadi tak sebanding antara hadiah dengan modal yang dikeluarkan. Yang menjadi pertanyaan mengapa acara tujuliko (menyalakan lampu colok di malam 27 Ramadan) ini tetap diminati warga Bengkalis, khususnya di Desa Sungai Alam.
Bocah kecil ini sebenarnya bukan warga Desa Sungai Alam, Bengkalis, ia dilahirkan di Selatpanjang, namun kedua orang tuanya berasal dari Sungai Alam. Setiap hari raya, dia diajak kedua orang tuanya pulang kampung, dan selama libur Ramadan, Tafa paling suka membantu mendirikan lampu colok. Memang sebagai bocah, dia tidak bisa membantu mendirikan kerangka struktur menara lampu colok yang tingginya mencapai 15 sampai 20 meter.
Tiang-tiang yang terbuat dari kayu itu membentuk seperti kerangka bangunan menjulang tinggi, namun tidak melebar, sebab targetnya adalah bentuk masjid dengan beragam bentuk, seperti masjid dengan empat menara di sampingnya, ada bentuk masjid dengan kubah yang megah, ada bentuk masjid dengan ruangan yang melebar, pokoknya labih banyak corak lampu colok ini adalah bentuk masjid, hanya sebagian saja yang berbentuk seperti ketupat, gapura dan lainnya.
Tafa tidak bisa membantu mendirikan kerangka kayu-kayu menara lampu colok itu, dia hanya bisa membantu mencari kaleng minuman bekas untuk dijadikan lampu colok. Tugas lainnya yang bisa dilakukan adalah mengisi minyak tanah ke dalam lampu colok itu.
Jumlah kaleng minuman yang diperlukan untuk membentuk lampu colok yang megah, diperlukan minimal 3.000 kaleng minuman. Untuk mendapatkan kaleng minuman sebanyak itu, anak-anak biasanya disuruh mencarinya, yakni jauh-jauh hari sebelum jatuhnya malam tujuhliko. ‘’Kami inilah yang mencari kaleng-kaleng itu, mencari di pinggir rumah atau di parit,’’ ujar Umar, rekan Tafa yang sama-sama hobi lampu colok.
Namun biasanya, pihak panitia menyimpan lampu colok tahun lalu. Panitia menyortir, kaleng minuman dan sumbu lampu colok yang masih bisa dipakai. ‘’Kalau mencari 5.000 kaleng, siapa yang mampu, makanya setiap selesai acara lampu colok, panitia mengumpulkan seluruh lampu colok itu,’’ ujar Teh Boy, salah seorang warga Sungai Alam.
Bagi Tafa, pekerjaan mencari kaleng minuman bekas menyenangkan, karena berharap lampu colok yang dibuatnya bersama orang di kampung, akan menjadi pemenang. Minimal, kalau pun tidak menang, tampilannya sangat menarik.
Padahal kalau saja kaleng minuman itu dijual ke tempat penampungan barang bekas, Tafa bersama rekan-rekannya akan mendapat uang yang cukup lumayan, tapi dia tidak memilih itu. Pekerjaan mencari kaleng minuman ini hanya untuk lampu colok semata.
Mencari kaleng minuman bekas bukan pekerjaan mudah, sebab menjelang Ramadan, biasanya semua warga tidak membuang begitu saja kaleng minuman, warga biasanya menyimpan kaleng minuman bekas itu, minimal digunakan untuk membuat lampu colok di depan rumahnya.
‘’Kami semua sudah paham, minuman kaleng bekas itu harus disimpan untuk membuat lampu colok di depan rumah kita sendiri. Misalnya saya sendiri tidak akan membuang kaleng minuman bekas itu, sebab saya akan membuat lampu colok di depan rumah saya. Kalau saya lupa, anak saya yang menyimpannya,’’ ujar Teh Boy.
Pokoknya semua warga tidak akan menyianyiakan kaleng bekas minuman itu. Semua sudah tahu, bahwa pada malam Tujuliko, mereka perlu kaleng bekas minuman. Bahkan bukan hanya kaleng bekas minuman, botol kecil bekas obat pun disimpan, nantinya bisa digunakan untuk lampu colok.
‘’Botol bekas obat batuk pun bisa digunakan untuk lampu colok. Tapi kalau tidak punya botol atau kaleng bekas minuman, biasanya warga menggunakan obor dari bambu, tapi obor bambu ini boros minyak,’’ papar sosok bapak yang pernah menjadi panitia lampu colok ini.
Dengan semakin berharganya kaleng minuman bekas ini, bagi Tafa dan rekannya, pekerjaan mencari kaleng minuman bekas ini agak berat. Namun karena lampu colok yang lama masih ada, Tafa tak harus mencarinya dalam jumlah yang banyak, semampunya saja, panitia lainnya juga mengumpulkan kaleng bekas minuman, jadi semua panitia saling bekerja sama.
Soal jumlah kaleng minuman bekas tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah berat bagi panitia tahun 2011 ini adalah soal modal dan kelangkaan minyak tanah. Setakat ini, dana belum jelas. Biasanya, dana dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis sudah cair sebelum pelaksanaan lampu colok, tapi tahun 2011 ini, dana itu belum jelas.
‘’Kalau memang ada dananya, tapi belum bisa cair jelang malam tujuhliko ini, kami sebagai panitia tidak ketakutan. Kami siap menalangi dulu. Tapi kalau dana itu tidak dianggarkan pemerintah daerah, tentulah kami bingung,’’ ujar Ketua Panitia Lampu Colok Simpang Tiga Desa Sungai Alam, Bengkalis.
Kabar yang sampai ke telinga panitia, memang pemerintah tidak mengalokasikan dana lampu colok. Makanya panitia mengumpulkan dana dari warga, selain itu juga menjumpa orang yang sukses di Desa Sungai Alam yang kebetulan saat Ramadan ini mereka pulang.
Bisa dikatakan, untuk menyelenggarakan lampu colok malam tujuliko Ramadan tahun 1432 Hijiriah ini bisa dikatakan nekat. Sebab, modal untuk membeli kayu untuk membuat kerangka bangunan lampu colok saja tidak jelas, siapa yang akan memberi dana. Belum lagi membeli minyak tanah yang jumlahnya minimal tiga drum. Apalagi minyak tanah pun langka di Pulau Bengkalis ini, karena beberapa hari lalu pelabuhan penyeberangan yang biasanya dilalui kapal roro yang mengangkut mobil tangki minyak itu rusak. Dampaknya pasokan minyak tanah ke Pulau Bengkalis pun terhambat. Kelangkaan minyak tanah ini tentunya menjadi masalah bagi panitia lampu colok.
‘’Bisa dikatakan, kami ini nekat, sebab modal belum terkumpul dan minyak tanah pun langka. Entahlah,’’ ujar Herman mengeluhkan soal dana dari pemerintah yang belum jelas.
Bagi warga Desa Sungai Alam, walau tidak ada dana, lampu colok akan tetap menyala. Minimal lampu colok dipasang di sekitar rumah, sebagai penerang di saat malam tujuliko. Namun untuk membuat lampu colok yang megah dengan jumlah 5.000 lampu Ramadan ini agak berat. ‘’Kami sebagai orang tua menengok tahun ini agak berat mendirikan lampu colok yang megah, tengok saja minyak tanah langka, belum lagi dana belum terkumpul,’’ ujar Sani (68) salah seorang tokoh masyarakat Desa Sungai Alam, Bengkalis.
Dua tahun lalu, ketika Bupati Syamsurizal masih memimpin Bengkalis, biasanya menjelang pelaksanaan perayaan lampu colok malam tujuhliko, dana sudah cair, panitia pun bersemangat, tapi tahun ini agaknya ragu-ragu, bisa dikatakan nekat mendirikan lampu colok yang megah. Karena untuk membentuk lampu colok yang megah itu minimal memerlukan dana Rp17 juta. Bukan hanya Sani yang ragu akan pelaksanaan lampu colok Ramadan 1432 Hijriah ini berjalan sukses, tetapi sejumlah warga lainnya pun merasakan kegamangan itu. Dana tidak ada, minyak tanah langka, apa bisa membentuk lampu colok yang megah?
‘’Jangankah minyak tanah, bensin saja sulit ditemukan. Ya, gara-gara pelabuhan Roro penyeberangan itu rusak, semua keperluan warga pun terhambat. Nah, kalau melaksanakan malam tujuliko dengan lampu colok yang indah, saya anggap itu sulit diwujudkan,’’ ujar Eman (50), salah seorang warga Desa Sungai Alam.
Mengenang Masa Lalu
Wan Kiah (83) duduk di dekat temeran lampu colok di depan rumahnya yang sudah dimakan usia. Rumah panggung itu saksi bisu perkembangan lampu calok di Desa Sungai Alam. Walau zaman sudah modern —sudah ada listrik—, namun Wan Kiah tetap menyalakan lampu colok di depan rumahnya, pada saat malam tujuhliko.
Menurut nenek yang sudah memiliki puluhan cucu dan cicit ini, masyarakat Melayu sudah lama mengenal lampu colok. Khususnya memasuki akhir Ramadan, maksudnya supaya jalan dari rumah menuju ke masjid terang, sebab di akhir Ramadan. Selain itu ada juga anggapan, bahwa arwah akan datang melihat keluarganya. ‘’Kalau orang tua dulu, lampu colok ini untuk menerangi arwah yang akan datang ke rumah, menjenguk keluarga,’’ ujar Wan Kiah yang sudah uzur ini.
Memang dulunya ada anggapan pemasangan lampu colok ini dikaitkan dengan arwah yang ingin melihat keluarganya, namun anggapan itu sudah hilang. Lebih banyak mereka yang beranggapan bahwa malam tujuhliko ini dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar, di mana sebagian hadits menyebutkan pada malam 27 Ramadan ini. Jadi gunanya lampu colok adalah untuk menerangi warga yang akan berangkat ke masjid. Sebab, sebelum tahun 1984, Bengkalis belum dialiri listri PLN.
Sebagaimana dijelaskan Drs H Yussar, salah seorang tokoh masyarakat Sungai Alam yang saat ini menjadi Ketua Pengadilan Agama di Ujung Tanjung, bahwa lampu colok sebelum tahun 1984-an, tidak begitu semarak. Warga hanya menggunakan lampu colok secara sederhana, misalnya digunakan untuk penerang ke rumah. Misalnya lampu colok dipasang keliling rumah, sehingga terlihat indah.
‘’Pada saat itu, pemasangan lampu colok di sekeliling rumah, terlihat sangat indah. Sebab belum ada listrik,’’ ujar alumni IAIN Suska ini.
Kalau mengenang masa lalu, saat remaja, banyak yang lucu. Ada kawan yang kelahi gara-gara berebut botol minyak rambut yang ditemukan di dekat parit, sebab dulu jarang sekali botol, dan belum ada minuman yang dikemas di kaleng. Tapi itulah keindahan masa lalu. Namun tujuan memasang lampu colok itu supaya jalan menuju masjid terang, bukan seperti sekarang ini, hanya untuk keindahan saja.
‘’Makna tujuhliko itu ditujukan untuk Malam Lailatul Qadar, dimana sebagian pendapat ulama bahwa malam itu akan turun pada malam-malam ganjil akhir Ramadan, bahkan ada yang menyatakan pada malam 27 Ramadan. Jadi pemasangan lampu colok pada malam tujuhliko yang berarti malam 27 Ramadan itu, dimaksudkan agar umat Islam mengisi malam itu dengan ibadah, dan jalan menuju masjid pun terang, rumah pun terang. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam menyambut malam itu dengan ibadah,’’ jelas Yussar yang kebetulan pulang kampung ke Sungai Alam saat malam tujuhliko Ramadan lalu.
Dasar pemikiran lampu colok ini harus jelas, jangan sampai acara lampu colok yang indah disalahartikan oleh generasi muda. Kalau memang dasar pemikirannya untuk menyemarakkan Ramadan, maka ini tidak masalah. Bila perlu di dekat colok itu digelar tabliq akbar atau ceramah, sehingga mereka yang datang menyaksikan lampu colok pun mendapat siraman rohani.
Mayoritas Ulama berpendapat bahwa datangnya malam Lailatul Qadar adalah setiap tahun sebab nabi selalu menunggu kehadirannya dan menghimbau ummat ibadah semalam suntuk menanti datangnya pada malam-malam ganjil sepuluh yang terakhir dari pada malam Ramadan. Pendapat pun berbeda-beda dalam hal kedatangannya. Ada yang berpendapat pada malam 27 Ramadan, ada juga yang berpendapat 23, 25, dan 29 Ramadan. Ada juga yang berpendapat tanggal kedatanganya bergantian antara tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29, namun pendapat kebanyakan ulama adalah pada malam 27 Ramadan.
Anehnya lagi, malam 27 Ramadan ini disebut tujuhliko (berarti tujuhlikor, yakni dalam bahasa Jawa likor berarti 20, tujuh likor berarti malam 27). Mengapa menggunakan kata tujuhliko, sebab penduduk Bengkalis sebagian Suku Jawa. Ini menunjukkan akulturasi Melayu-Jawa di Pulau Bengkalis sudah berlangsung lama. Demikian sebaliknya, suku Jawa di Bengkalis mereka dalam keseharian berbahasa Melayu, sebab bahasa ini sudah menjadi bahasa keseharian sesama mereka. Makanya tidak sedikit bahasa Jawa yang masuk dalam leksikon bahasa Melayu, salah satunya dalam penyebutan malam 27 Ramadan.
Setiap orang di Desa Sungai Alam memiliki memori pengalaman yang berbeda tentang lampu colok. Khususnya bagi kalangan yang sudah berusia di atas 40 tahun, mereka merasakan bagaimana merayakan lampu colok dengan peralatan seadanya. ‘’Bagi kami yang lahir tahun 1960-an, lampu colok umumnya terbuat dari buluh, sebutan colok itu mungkin karena kalau memasangkan dari satu lampu dengan lampu lainnya dengan cara dicolokkan (lampu yang sudah dinyalakan didekatkan dengan lampu yang belum menyala), makanya disebut lampu colok,’’ ujar Sopyan, warga Bengkalis yang kini bermukim di Sungai Pakning, kebetulan saat malam tujuhliko lalu dia pulang kampung ke Sungai Alam.
Menurut Yussar, perayaan lampu colok ini mulai ramai sejak pertengah tahun 1980an, sebelumnya lampu colok hanya terbuat dari buluh (bambu), misalnya buluh dilubangi beberapa ruang kemudian diberi beberapa sumbu dan dipajang di depan rumah atau di jalan menuju ke rumah. Ada juga yang menggunakan buluh yang bercabang, dimana setiap cabangnya dipasang lampu colok, jadi kelihatan indah.
”Dulu sebelum ada kawat duri untuk membentuk corak lampu colok yang diinginkan, kami menggunakan anak pohon getah yang batangnya lembut, sehingga mudah dibentuk. Dulu yang ada cuma lampu serongkeng (lampu petromak, red), jadi malam tujuhliko itu sangat berkesan. Bahkan jalan ke wc dan perigi yang jauh di belakang rumah pun dipasang lampu colok, senang sekali rasanya,” ujar Yusar mengenang masa lalu.
Malam Kemenangan
Tepatnya 27 Ramadan lalu, atau malam 26 Agustus jalan dari Pelabuhan Roro Air Putih sampai masuk ke Gerbang Desa Sungai Alam, terlihat lampu berkedip-kedip seperti Negeri Seribu Malam yang indah. Nampak lampu colok yang berbentuk gerbang, kemudian tak lama berselang, nampak lampu colok yang berbentuk masjid yang megah. Jalan pun macet, ternyata pak Bupati Herliyan Saleh ikut menghadiri malam tujuhliko di Desa Sungai Alam.
Jalan macet, pejabat dan ribuan warga pun tak sabar menyaksikan lampu colok. ”Inilah malam yang ditunggu-tunggu itu,” ujar Kepala Desa Sungai Alam Herman.
Terbesit kabar, bagi lampu colok yang terbaik akan mendapat hadiah, warga pun ikut gembira. ”Alhamdulillah, setelah penilaian dari tim Pemkab, lampu colok Sungai Alam terpilih sebagai pemenang. Bisalah digunakan untuk menanggulangi dana yang minim itu. Walaupun bagi kami tak ada dana dari Pemkab tak jadi masalah, tapi kalau bisa tahun depan jauh-jauh hari kami dibantu,” paparnya.(esi)

0 komentar: on "Bengkalis, Pulau Sejuta Colok"
Posting Komentar