Ribuan Peserta Ikuti Seminar Forestry Indonesia
Laporan ERWAN SANI, Jakarta erwansani@riaupos.com
Semua peduli dengan hutan Indonesia. Bahkan Norwegia siap memberi insentif untuk Indonesia dalam menyelamatkan hutan dan mengurangi emisi sebesar 24 persen hingga 2020.
Kepedulian ini dibuktikan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai lembaga peduli lingkungan dan orang perorangan ikut dalam seminar Forestry Indonesia (Kehutanan Indonesia) yang diadakan Center for International Forestry Research (CIFOR) di Hotel Shangri-la.
DI tengah-tengah seribuan orang yang peduli lingkungan di dunia, Presiden SBY menyatakan, tiga tahun terakhir masa jabatannya akan didedikasikan untuk mengamankan hutan hujan tropis Indonesia. Ini merupakan sebuah ikrar yang dapat dukungan luas pada sebuah konferensi besar di Jakarta.
Konferensi yang diselenggarakan Center for International Forestry Research (CIFOR) ini jadi landasan bagi 1.000 pemimpin dari kalangan pemerintah, komunitas bisnis dan masyarakat sipil, juga para donatur asing, untuk mendiskusikan masa depan hutan Indonesia yang merupakan wilayah hutan tropis ketiga terbesar di dunia.
‘’Saya akan melanjutkan kerja saya dan mendedikasikan tiga tahun terakhir masa jabatan sebagai Presiden untuk terus-menerus mendukung dan meningkatkan upaya pelestarian lingkungan dan hutan di Indonesia,’’ kata Presiden SBY.
‘’Kalau bukan karena manfaat yang diberikan oleh hutan kita, maka cara hidup, masyarakat, ekonomi, dan lingkungan kita pastiakan jadi jauh lebih miskin. Keberhasilan kita mengelola hutan akan menentukan masa depan dan peluang-peluang yang tersedia bagi anak-anak kita kelak,’’ lanjutnya.
Indonesia kehilangan kira-kira 1,1 juta Ha hutannya tiap tahun. Sebagian besar karena penebangan yang tak lestari yang meliputi konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan industri bubur kertas (pulp) dan kertas.
Ini sebagian juga karena pembalakan liar skala luas, yang diperkirakan telah merugikan Indonesia sekitar 4 miliar dolar AS tiap tahun.
‘’Kita harus mengubah cara kita memperlakukan hutan, agar dapat tetap dilestarikan meski kita juga sedang berupaya keras mempercepat laju pertumbuhan ekonomi,’’ kata Presiden.
‘’Saya tak ingin kelak menjelaskan pada cucu saya Almira bahwa kami, semasa hidup kami, tak dapat mengamankan hutan Indonesia dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Saya tak ingin menceritakan padanya kisah sedih tentang harimau, badak dan orang utan yang akhirnya punah seperti dinosaurus,’’ lanjutnya.
Dalam pidatonya, Presiden mengulangi ikrar yang disampaikan pada 2009 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sampai dengan 41 persen pada tingkat bisnis pada 2020. Sebuah komitmen yang hanya dapat diwujudkan jika hutan terlindungi dan terselamatkan.
Secara global, kata SBY, penebangan hutan menyumbang sampai 20 persen dari emisi gas rumah kaca. Namun, di Indonesia, proporsi itu mencapai hampir 85 persen. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang gas rumah kaca tertinggi di dunia.
Norwegia telah berkomitmen mendukung 1 miliar dolar AS untuk membantu Indonesia mencapai target tersebut. Dalam Mei tahun ini pemerintah telah mengeluarkan moratorium (penghentian sementara) dua tahun bagi konsesi-konsesi hutan baru.
‘’Norwegia bangga menjadi mitra Indonesia dalam hal ini,’’ ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Internasional Norwegia, Erik Solheim, dalam konferensi tersebut.
‘’Kami sangat mendorong negara-negara lain untuk turut mendukung upaya yang sedang dilakukan Presiden Yudhoyono dan Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Presiden Yudhoyono sekarang merupakan salah seorang negarawan terdepan yang memimpin perjuangan internasional untuk memerangi perubahan iklim,’’ jelasnya.
Diperkirakan, dana yang mengalir dari negara maju ke negara berkembang dapat mencapai 30 miliar dolar AS tiap tahun. Untuk memfasilitasi pengurangan penebangan hutan secara kentara,
Indonesia berpotensi mengklaim bagian yang cukup berkesan dari dana ini melalui REDD+. Yakni suatu mekanisme global untuk mengurangi emisi dari penebangan hutan dan degradasi hutan (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), konservasi dan pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan stok karbon hutan.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kegiatan demonstrasi REDD+ tertinggi dalam berbagai tingkatan. Indonesia telah jadi peserta terdepan dalam berbagai inisiatif bilateral dan multilateral untuk mempersiapkan penerapan REDD+ pada tingkat nasional.
Sebagai tambahan terhadap peluang pendanaan potensial melalui REDD+ dalam tahun-tahun mendatang, Indonesia memiliki sejumlah pilihan yang tersedia untuk mengurangi laju penebangan hutan dan pada saat yang bersamaan juga dapat meningkatkan produksi pertanian untuk menjamin target keamanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini mencakup juga pemusatan perhatian pada perkembangan pertanian masa depan pada wilayah yang disebut tanah terdegradasi, dan bukannya membabat hutan untuk membuka perkebunan atau mengembangkan lahan-lahan gambut yang kaya akan karbon.
Pemerintah juga dapat memperkuat dorongan terhadap intensifikasi pertanian-meningkatkan hasil panen per hektare, yang kini masih rendah.
‘’Meski ada beberapa peluang untuk sama-sama menang dalam mempersatukan pengelolaan hutan untuk mencapai sasaran global dan domestik, akan ada juga trade off yang akan memerlukan pengarahan pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil untuk menentukan cara terbaik selanjutnya untuk Indonesia dalam cara yang transparan dan adil,’’ ungkap Frances Seymour, Direktur Jenderal CIFOR.
Sebagai bagian dari desakannya untuk mengamankan hutan, Presiden SBY minta para pemimpin industri Indonesia untuk menerapkan cara-cara pengelolaan hutan yang lebih lestari.
‘’Saya minta para pemimpin bisnis kita, khususnya mereka yang berkecimpung dalam usaha kelapa sawit, kayu untuk pulp dan sektor pertambangan, untuk bermitra dengan kami dengan meningkatkan kelestarian lingkungan dalam operasi mereka. Saya minta Anda untuk bergabung dengan saya untuk mengamankan kekayaan nasional ini demi anak-anak kita,’’ ujarnya.
Janji Presiden ini dapat dukungan luas dari para peserta konferensi.
‘’Saya gembira dapat ada di sini, dalam Konferensi Hutan Indonesia karena Inggris mengakui pentingnya perubahan iklim di Indonesia. Kami bangga dapat mendukung usaha pemerintah Indonesia untuk memenuhi komitmen perubahan iklim internasionalnya,’’ kata Menteri Negara Inggris dari Departemen Lingkungan, Pangan dan Urusan Pedesaan, Jim Paice.***
Laporan ERWAN SANI, Jakarta erwansani@riaupos.com
Semua peduli dengan hutan Indonesia. Bahkan Norwegia siap memberi insentif untuk Indonesia dalam menyelamatkan hutan dan mengurangi emisi sebesar 24 persen hingga 2020.
Kepedulian ini dibuktikan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai lembaga peduli lingkungan dan orang perorangan ikut dalam seminar Forestry Indonesia (Kehutanan Indonesia) yang diadakan Center for International Forestry Research (CIFOR) di Hotel Shangri-la.
DI tengah-tengah seribuan orang yang peduli lingkungan di dunia, Presiden SBY menyatakan, tiga tahun terakhir masa jabatannya akan didedikasikan untuk mengamankan hutan hujan tropis Indonesia. Ini merupakan sebuah ikrar yang dapat dukungan luas pada sebuah konferensi besar di Jakarta.
Konferensi yang diselenggarakan Center for International Forestry Research (CIFOR) ini jadi landasan bagi 1.000 pemimpin dari kalangan pemerintah, komunitas bisnis dan masyarakat sipil, juga para donatur asing, untuk mendiskusikan masa depan hutan Indonesia yang merupakan wilayah hutan tropis ketiga terbesar di dunia.
‘’Saya akan melanjutkan kerja saya dan mendedikasikan tiga tahun terakhir masa jabatan sebagai Presiden untuk terus-menerus mendukung dan meningkatkan upaya pelestarian lingkungan dan hutan di Indonesia,’’ kata Presiden SBY.
‘’Kalau bukan karena manfaat yang diberikan oleh hutan kita, maka cara hidup, masyarakat, ekonomi, dan lingkungan kita pastiakan jadi jauh lebih miskin. Keberhasilan kita mengelola hutan akan menentukan masa depan dan peluang-peluang yang tersedia bagi anak-anak kita kelak,’’ lanjutnya.
Indonesia kehilangan kira-kira 1,1 juta Ha hutannya tiap tahun. Sebagian besar karena penebangan yang tak lestari yang meliputi konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan industri bubur kertas (pulp) dan kertas.
Ini sebagian juga karena pembalakan liar skala luas, yang diperkirakan telah merugikan Indonesia sekitar 4 miliar dolar AS tiap tahun.
‘’Kita harus mengubah cara kita memperlakukan hutan, agar dapat tetap dilestarikan meski kita juga sedang berupaya keras mempercepat laju pertumbuhan ekonomi,’’ kata Presiden.
‘’Saya tak ingin kelak menjelaskan pada cucu saya Almira bahwa kami, semasa hidup kami, tak dapat mengamankan hutan Indonesia dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Saya tak ingin menceritakan padanya kisah sedih tentang harimau, badak dan orang utan yang akhirnya punah seperti dinosaurus,’’ lanjutnya.
Dalam pidatonya, Presiden mengulangi ikrar yang disampaikan pada 2009 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sampai dengan 41 persen pada tingkat bisnis pada 2020. Sebuah komitmen yang hanya dapat diwujudkan jika hutan terlindungi dan terselamatkan.
Secara global, kata SBY, penebangan hutan menyumbang sampai 20 persen dari emisi gas rumah kaca. Namun, di Indonesia, proporsi itu mencapai hampir 85 persen. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang gas rumah kaca tertinggi di dunia.
Norwegia telah berkomitmen mendukung 1 miliar dolar AS untuk membantu Indonesia mencapai target tersebut. Dalam Mei tahun ini pemerintah telah mengeluarkan moratorium (penghentian sementara) dua tahun bagi konsesi-konsesi hutan baru.
‘’Norwegia bangga menjadi mitra Indonesia dalam hal ini,’’ ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Internasional Norwegia, Erik Solheim, dalam konferensi tersebut.
‘’Kami sangat mendorong negara-negara lain untuk turut mendukung upaya yang sedang dilakukan Presiden Yudhoyono dan Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Presiden Yudhoyono sekarang merupakan salah seorang negarawan terdepan yang memimpin perjuangan internasional untuk memerangi perubahan iklim,’’ jelasnya.
Diperkirakan, dana yang mengalir dari negara maju ke negara berkembang dapat mencapai 30 miliar dolar AS tiap tahun. Untuk memfasilitasi pengurangan penebangan hutan secara kentara,
Indonesia berpotensi mengklaim bagian yang cukup berkesan dari dana ini melalui REDD+. Yakni suatu mekanisme global untuk mengurangi emisi dari penebangan hutan dan degradasi hutan (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), konservasi dan pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan stok karbon hutan.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kegiatan demonstrasi REDD+ tertinggi dalam berbagai tingkatan. Indonesia telah jadi peserta terdepan dalam berbagai inisiatif bilateral dan multilateral untuk mempersiapkan penerapan REDD+ pada tingkat nasional.
Sebagai tambahan terhadap peluang pendanaan potensial melalui REDD+ dalam tahun-tahun mendatang, Indonesia memiliki sejumlah pilihan yang tersedia untuk mengurangi laju penebangan hutan dan pada saat yang bersamaan juga dapat meningkatkan produksi pertanian untuk menjamin target keamanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini mencakup juga pemusatan perhatian pada perkembangan pertanian masa depan pada wilayah yang disebut tanah terdegradasi, dan bukannya membabat hutan untuk membuka perkebunan atau mengembangkan lahan-lahan gambut yang kaya akan karbon.
Pemerintah juga dapat memperkuat dorongan terhadap intensifikasi pertanian-meningkatkan hasil panen per hektare, yang kini masih rendah.
‘’Meski ada beberapa peluang untuk sama-sama menang dalam mempersatukan pengelolaan hutan untuk mencapai sasaran global dan domestik, akan ada juga trade off yang akan memerlukan pengarahan pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil untuk menentukan cara terbaik selanjutnya untuk Indonesia dalam cara yang transparan dan adil,’’ ungkap Frances Seymour, Direktur Jenderal CIFOR.
Sebagai bagian dari desakannya untuk mengamankan hutan, Presiden SBY minta para pemimpin industri Indonesia untuk menerapkan cara-cara pengelolaan hutan yang lebih lestari.
‘’Saya minta para pemimpin bisnis kita, khususnya mereka yang berkecimpung dalam usaha kelapa sawit, kayu untuk pulp dan sektor pertambangan, untuk bermitra dengan kami dengan meningkatkan kelestarian lingkungan dalam operasi mereka. Saya minta Anda untuk bergabung dengan saya untuk mengamankan kekayaan nasional ini demi anak-anak kita,’’ ujarnya.
Janji Presiden ini dapat dukungan luas dari para peserta konferensi.
‘’Saya gembira dapat ada di sini, dalam Konferensi Hutan Indonesia karena Inggris mengakui pentingnya perubahan iklim di Indonesia. Kami bangga dapat mendukung usaha pemerintah Indonesia untuk memenuhi komitmen perubahan iklim internasionalnya,’’ kata Menteri Negara Inggris dari Departemen Lingkungan, Pangan dan Urusan Pedesaan, Jim Paice.***

0 komentar: on "Janji Selamatkan Hutan, Kurangi Emisi"
Posting Komentar