Melihat Perkembangan Objek Wisata Gelombang Bono Kuala Kampar
Laporan ANDI NOVIRIANTI, Teluk Meranti andinoviriyanti@riaupos.co.id
Keberanian para peselancar dunia bermain-main di atas gelombang bono, berlahan mengikis ketakutan masyarakat di pesisir Kuala Kampar. Bahkan kini, ada wahana wisata baru yang bisa digarap.
Namanya bermain bono. Ia layaknya permainan adu nyali, yakni naik speedboat di atas gelombang bono sembari menyaksikan kepiawaian para peselancar.
Tapi hati-hati mencoba permainan ini. Kalau nakhodanya tak ahli mencari alur atau speedboat tiba-tiba rusak, maka maut tantangannya.
Rabu (28/9) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB. Tiba-tiba Riau Pos yang baru terlelap tidur merasa tempat tidur bergoyang.
Lalu terdengar suara air seperti bergolak di bawah lantai kamar. Semakin lama golakan air itu semakin kuat. Itulah bono yang terjadi di malam hari, seperti yang diceritakan David Badalec pada Riau Pos beberapa jam sebelumnya.
David bercerita, tengah malam kemarin (27/9), ia mendengar bunyi dentuman air. Buuum, ujarnya sembari membuka telapak tangan di depan dadanya. Gelombang bono, katanya, selain terjadi di siang hari juga terjadi di tengah malam.
��Saat gelombang bono terjadi malam tadi, saya dibangunkan David untuk mendengar gemuruh gelombang itu. Tapi saya mengantuk sekali, jadi tak mendengarnya,�� ujar Lynn Wanie, istri David yang ada di dekatnya.
Menurut Hisyam Setiawan dari River Defender, kelompok pecinta sungai yang ikut mengorganisasi pengembangan wisata bono, Jumat (30/9), dentuman dan gelombang bono yang didengar dan dirasakan David dan Riau Pos terjadi akibat pertemuan arus.
��Bono terjadi karena pertemuan arus pasang laut Selat Melaka dan arus Sungai Kampar. Di tambah dengan penyempitan yang terjadi di perairan Pulau Muda,�� ujar pria yang ikut bersama Antony Colas, penemu pertama perairan bono untuk berselancar September 2010 silam.
Gelombang bono bersifat merusak. Apa saja yang dihantamnya akan tergulung. Kapal dibuatnya karam. Bibir sungai dibuatnya runtuh. Itu sebabnya gelombang bono juga dikenal sebagai tsunami kecil.
Menurut cerita Ruzi Hartono (27), masyarakat setempat yang jadi nakhoda speedboat yang Riau Pos tumpangi dan ikut bermain bono, beberapa pendatang pernah dibuat kalang kabut karena bono. Mereka mengira itu tsunami.
��Waktu itu, ada pendatang yang bekerja memasang tower salah satu provider seluler. Mereka menginap di rumah yang ada di bibir sungai. Begitu mendengar suara bono, mereka berhamburan ke luar rumah dan beberapa di antaranya memanjat pohon. Masyarakat sekitar tertawa melihat mereka. Lalu dijelaskanlah bahwa itu bukan tsunami, tapi bono,�� papar pria yang sudah sepuluh tahun jadi nakhoda speedboat ini.
Ruzi atau yang lebih akrab dipanggil Muji lalu menjelaskan, sejak kedatangan para peselancar, banyak yang mulai suka bermain bono. Maksudnya naik speedboat di atas gelombang bono sembari menyaksikan aksi peselancar.
Jika dulu agak jauh, sekarang sudah mulai berani mendekat. Bahkan ada juga yang berani berada betul-betul di atas bono. Seperti yang ia lakukan.
��Yang penting untuk bisa main bono ini, kita harus tahu alur sungai agar tak kandas. Mengetahui alur sungai bisa dilihat dari banyak sampah. Kalau sampahnya banyak itu berarti dalam. Tapi jika sampahnya sedikit itu artinya pantai. Nah kita harus memastikan kita berada di alur yang dalam. Jika tidak, karam,�� ujarnya saat menunggu kedatangan gelombang bono bersama Riau Pos di Tanjung Sendok.
��Selain itu, hal juga yang sangat penting adalah jangan sampai mesin rusak atau mati. Kalau itu terjadi, jangankan speedboat, kapal saja bisa terbalik dan karam disapu bono.
��Dulu saya pernah punya pengalaman tersapu bono. Untung selamat. Kalau sekarang mati karena bermain bono, itu berarti sudah takdir,�� ujarnya menjelaskan mengapa ia berani bermain bono.
Untuk bisa bermain bono, tekniknya, speedboat harus mengejar gelombang bono. Setelah ada di depannya, pastikan gelombang bono berada di belakang speedboat. Kecepatan speedboat harus lebih dari kecepatan bono. Seperti speedboat yang dinkhodainya yang bermesin 200 PK.
��Kalau gelombang bono itu sekitar 2.000 rpm atau 20 Km per jam. Kalau bono sekitar 7.000 rpm atau sekitar 70 Km per jam. Terus penumpangnya tak boleh banyak. Agar lincah bergerak,�� terangnya yang hari itu hanya membawa enam orang di atas speedboat berkapasitas belasan orang tersebut.
Bermain bono di atas speedboat, rasanya seperti main wahana kora-kora di Dunia Fantasi. Terayun-ayun dan oleng ke kiri ke kanan. Ditambah dengan sensasi melaju kencang dan tiba-tiba menikung tajam.
Bila memandang keluar rasanya separuh tenggelam di dalam gelombang bono. Namun karena asyik melihat gerakan para peselancar di atas bono dan melihat empat speedboat lainnya yang juga bermain bono, semua perasaan ngeri terabaikan.
Mungkin juga selain karena terpesona melihat aksi para peselancar, karena saat itu gelombang bono belum garang-garangnya. ��Gelombang bono ini masih kecil. Karena saat ini sedang anak bulan.
Kalau bulan besar atau pasang keling barulah bononya besar,�� ujar ayah dua anak sembari menjelaskan gelombang bono tak selalu ada.
Tapi sangat tergantung dengan keberadaan bulan. Gelombang paling tinggi terjadi saat bulan besar (bulan purnama). Jadi tak bisa memakai kalender untuk menentukan jadwal gelombang bono datang.
��Kalau ingin tahu kapan bono datang, ya harus lihat bulan. Namun sekali waktu kadang-kadang muncul tidak terduga,�� imbuhnya.
Ia menyebutkan sekitar tahun 1990-an, pernah ada satu kapal tersapu bono. Sekitar 60 orang meninggal. Gara-gara salah memperkirakan bono. Waktu itu kapalnya kandas di tengah sungai karena dangkal.
Nahkoda kapal tak menyangka ada bono, sehingga ia minta para penumpang untuk tetap di kapal. Kalau tidak, dia tak bertanggung jawab.
Namun beberapa orang memilih meninggalkan kapal dengan berjalan kaki karena air sungai dangkal menuju tepian sungai yang berhutan. Mereka itulah yang kemudian selamat sementara yang bertahan di kapal tersapu bono dan meninggal.
Cerita tentang kapal tersapu gelombang bono, meski kini telah mulai memudar, namun tetap masih terjadi. Misalnya Selasa (27/9) siang sebelumnya, ada satu speedboat yang terbalik. Untung saja tak ada korban jiwa.
Selain berselancar dan bermain bono, potensi wisata lainnya pun bermunculan di tempat itu. Misalnya pada 26-29 September lalu, Pemerintah Kabupaten Pelalawan melaksanakan Pagelaran Seni Budaya Tirta Bono.
Acara yang dibuka Sekretaris Daerah Pelalawan Zarderwan ini berisi kegiatan atraksi musik, silat, tari, dan lain sebagainya yang jadi kebudayaan masyarakat di Pesisir Kuala Kampar.
Helat budaya itu sengaja dirancang dan dikemas, bertepatan kedatangan para peselancar yang selama sepekan di akhir September berada di tempat tersebut.(bersambung)
Laporan ANDI NOVIRIANTI, Teluk Meranti andinoviriyanti@riaupos.co.id
Keberanian para peselancar dunia bermain-main di atas gelombang bono, berlahan mengikis ketakutan masyarakat di pesisir Kuala Kampar. Bahkan kini, ada wahana wisata baru yang bisa digarap.
Namanya bermain bono. Ia layaknya permainan adu nyali, yakni naik speedboat di atas gelombang bono sembari menyaksikan kepiawaian para peselancar.
Tapi hati-hati mencoba permainan ini. Kalau nakhodanya tak ahli mencari alur atau speedboat tiba-tiba rusak, maka maut tantangannya.
Rabu (28/9) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB. Tiba-tiba Riau Pos yang baru terlelap tidur merasa tempat tidur bergoyang.
Lalu terdengar suara air seperti bergolak di bawah lantai kamar. Semakin lama golakan air itu semakin kuat. Itulah bono yang terjadi di malam hari, seperti yang diceritakan David Badalec pada Riau Pos beberapa jam sebelumnya.
David bercerita, tengah malam kemarin (27/9), ia mendengar bunyi dentuman air. Buuum, ujarnya sembari membuka telapak tangan di depan dadanya. Gelombang bono, katanya, selain terjadi di siang hari juga terjadi di tengah malam.
��Saat gelombang bono terjadi malam tadi, saya dibangunkan David untuk mendengar gemuruh gelombang itu. Tapi saya mengantuk sekali, jadi tak mendengarnya,�� ujar Lynn Wanie, istri David yang ada di dekatnya.
Menurut Hisyam Setiawan dari River Defender, kelompok pecinta sungai yang ikut mengorganisasi pengembangan wisata bono, Jumat (30/9), dentuman dan gelombang bono yang didengar dan dirasakan David dan Riau Pos terjadi akibat pertemuan arus.
��Bono terjadi karena pertemuan arus pasang laut Selat Melaka dan arus Sungai Kampar. Di tambah dengan penyempitan yang terjadi di perairan Pulau Muda,�� ujar pria yang ikut bersama Antony Colas, penemu pertama perairan bono untuk berselancar September 2010 silam.
Gelombang bono bersifat merusak. Apa saja yang dihantamnya akan tergulung. Kapal dibuatnya karam. Bibir sungai dibuatnya runtuh. Itu sebabnya gelombang bono juga dikenal sebagai tsunami kecil.
Menurut cerita Ruzi Hartono (27), masyarakat setempat yang jadi nakhoda speedboat yang Riau Pos tumpangi dan ikut bermain bono, beberapa pendatang pernah dibuat kalang kabut karena bono. Mereka mengira itu tsunami.
��Waktu itu, ada pendatang yang bekerja memasang tower salah satu provider seluler. Mereka menginap di rumah yang ada di bibir sungai. Begitu mendengar suara bono, mereka berhamburan ke luar rumah dan beberapa di antaranya memanjat pohon. Masyarakat sekitar tertawa melihat mereka. Lalu dijelaskanlah bahwa itu bukan tsunami, tapi bono,�� papar pria yang sudah sepuluh tahun jadi nakhoda speedboat ini.
Ruzi atau yang lebih akrab dipanggil Muji lalu menjelaskan, sejak kedatangan para peselancar, banyak yang mulai suka bermain bono. Maksudnya naik speedboat di atas gelombang bono sembari menyaksikan aksi peselancar.
Jika dulu agak jauh, sekarang sudah mulai berani mendekat. Bahkan ada juga yang berani berada betul-betul di atas bono. Seperti yang ia lakukan.
��Yang penting untuk bisa main bono ini, kita harus tahu alur sungai agar tak kandas. Mengetahui alur sungai bisa dilihat dari banyak sampah. Kalau sampahnya banyak itu berarti dalam. Tapi jika sampahnya sedikit itu artinya pantai. Nah kita harus memastikan kita berada di alur yang dalam. Jika tidak, karam,�� ujarnya saat menunggu kedatangan gelombang bono bersama Riau Pos di Tanjung Sendok.
��Selain itu, hal juga yang sangat penting adalah jangan sampai mesin rusak atau mati. Kalau itu terjadi, jangankan speedboat, kapal saja bisa terbalik dan karam disapu bono.
��Dulu saya pernah punya pengalaman tersapu bono. Untung selamat. Kalau sekarang mati karena bermain bono, itu berarti sudah takdir,�� ujarnya menjelaskan mengapa ia berani bermain bono.
Untuk bisa bermain bono, tekniknya, speedboat harus mengejar gelombang bono. Setelah ada di depannya, pastikan gelombang bono berada di belakang speedboat. Kecepatan speedboat harus lebih dari kecepatan bono. Seperti speedboat yang dinkhodainya yang bermesin 200 PK.
��Kalau gelombang bono itu sekitar 2.000 rpm atau 20 Km per jam. Kalau bono sekitar 7.000 rpm atau sekitar 70 Km per jam. Terus penumpangnya tak boleh banyak. Agar lincah bergerak,�� terangnya yang hari itu hanya membawa enam orang di atas speedboat berkapasitas belasan orang tersebut.
Bermain bono di atas speedboat, rasanya seperti main wahana kora-kora di Dunia Fantasi. Terayun-ayun dan oleng ke kiri ke kanan. Ditambah dengan sensasi melaju kencang dan tiba-tiba menikung tajam.
Bila memandang keluar rasanya separuh tenggelam di dalam gelombang bono. Namun karena asyik melihat gerakan para peselancar di atas bono dan melihat empat speedboat lainnya yang juga bermain bono, semua perasaan ngeri terabaikan.
Mungkin juga selain karena terpesona melihat aksi para peselancar, karena saat itu gelombang bono belum garang-garangnya. ��Gelombang bono ini masih kecil. Karena saat ini sedang anak bulan.
Kalau bulan besar atau pasang keling barulah bononya besar,�� ujar ayah dua anak sembari menjelaskan gelombang bono tak selalu ada.
Tapi sangat tergantung dengan keberadaan bulan. Gelombang paling tinggi terjadi saat bulan besar (bulan purnama). Jadi tak bisa memakai kalender untuk menentukan jadwal gelombang bono datang.
��Kalau ingin tahu kapan bono datang, ya harus lihat bulan. Namun sekali waktu kadang-kadang muncul tidak terduga,�� imbuhnya.
Ia menyebutkan sekitar tahun 1990-an, pernah ada satu kapal tersapu bono. Sekitar 60 orang meninggal. Gara-gara salah memperkirakan bono. Waktu itu kapalnya kandas di tengah sungai karena dangkal.
Nahkoda kapal tak menyangka ada bono, sehingga ia minta para penumpang untuk tetap di kapal. Kalau tidak, dia tak bertanggung jawab.
Namun beberapa orang memilih meninggalkan kapal dengan berjalan kaki karena air sungai dangkal menuju tepian sungai yang berhutan. Mereka itulah yang kemudian selamat sementara yang bertahan di kapal tersapu bono dan meninggal.
Cerita tentang kapal tersapu gelombang bono, meski kini telah mulai memudar, namun tetap masih terjadi. Misalnya Selasa (27/9) siang sebelumnya, ada satu speedboat yang terbalik. Untung saja tak ada korban jiwa.
Selain berselancar dan bermain bono, potensi wisata lainnya pun bermunculan di tempat itu. Misalnya pada 26-29 September lalu, Pemerintah Kabupaten Pelalawan melaksanakan Pagelaran Seni Budaya Tirta Bono.
Acara yang dibuka Sekretaris Daerah Pelalawan Zarderwan ini berisi kegiatan atraksi musik, silat, tari, dan lain sebagainya yang jadi kebudayaan masyarakat di Pesisir Kuala Kampar.
Helat budaya itu sengaja dirancang dan dikemas, bertepatan kedatangan para peselancar yang selama sepekan di akhir September berada di tempat tersebut.(bersambung)

0 komentar: on "Mencari Alur, Mengejar Bono"
Posting Komentar