Laporan AHMAD YULIAR Selatpanjang ahmaddamri@riaupis.com
Tak ada senyuman dan tawa, hanya raut murung dan kesedihan saja yang bisa ditunjukkan wajah pasangan Samsidi (45) saat mengetahui bayi yang dikandung istrinya, Nurhayati (43) terlahir cacat dengan kondisi tanpa batok kepala, sehingga otaknya terbuka tanpa penutup.
Seperti hari-hari biasanya, Senin (26/9) pagi Samsidi tetap menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai nelayan dengan menjaring ikan di laut dengan menggunakan sampan.
Namun saat pulang ke rumahnya, di Dusun Tanjung Gemuk, Desa Tanjung Bakau, Kecamatan Rangsang ia langsung meminta orang yang ada di sekitranya untuk memanggil bidan desa.
Setelah sang bidan meminta Samsidi untuk membawa sang istri yang terus meradang kesakitan membawa ke Selatpanjang untuk dirujuk ke RSUD Selatpanjang, karena bidan desa yang membatunnya itu tidak mampu, ia langsung bergegas mencari sepeda motor untuk membawa istrinya yang sudah hamil sembilan bulan lebih ke pelabuhan untuk dibawa dengan menggunakan kapal.
Setelah sampai ke Pelabuhan di Desa Tanjung Samak, dengan menggunakan kapal Dumai Express Samsidi membawa istrinya dengan kecemasan.
Sebab selama di kapal, istri yang terus berteriak kesakitan, harus kembali menempuh perjalanan selama lebih kurang satu jam untuk sampai ke Kota Selatpanjang.
Setelah masuk ke RSUD Selatpanjang bidan dan dokter langsung cekatan mengambil perannya untuk membantu melahirkan istri Samsidi.
Selama berjuang beberapa jam, tepatnya sekitar pukul 17.45 WIB, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin putra.
Berat badannya normal. Namun setelah diperhatikan secara seksama, ternyata batok kepala untuk menutupi otak bayi malang itu tidak ada.
‘’Tidak ada tanda-tanda atau hal-hal yang kami lakukan di luar kebiasaan. Tapi beberapa hari terakhir saye sempat bermimpi dikejar-kejar oleh hantu,’’ ujar Samsidi saat ditemui Riau Pos, Senin malam (26/9) di depan rungan anaknya dirawat oleh sejumlah bidan RSUD, dengan berurai air mata mengenang nasib malang yang diterima anak ke-9 nya itu.
Setelah mendapati kondisi anaknya yang tidak biasa itu, ia juga menceritakan dengan kesedihan yang mendalam di depan sejumlah wartawan yang dating menemuinya di RSDU Selatpanjang itu bahwa yang terpikirkan olehnya adalah bagaimana cara dia membiayai proses persalinan istrinya selama di RSUD itu. Sebab untuk membawa istrinya ke Selatpanjang saja, ia harus meminjam uang kepada tetangganya sebesar Rp200.000.
‘’Macam mane care nak bayo. Untuk kemari saja, saya tidak punya uang. Untuk membayar ongkos, saya pinjam uang kawan sebanyak Rp200 ribu,’’ ujarnya kembali menitikkan air mata.
Pria yang sudah memiliki satu cucu itu, baru kali ini istrinya melahirkan sampai ke RSUD. Sebelumnya untuk melahirkan delapan orang anaknya yang hanya tinggal tujuh orang hanya dilahirkan di bidan desa di kampungnya saja. Ia juga belum memberikan nama kepada putra bungsunya itu.
Disangka Ari-ari
Dokter yang membantu menangani proses persalinan istri Samsidi, dr Azharul SPoG saat ditemui menyebutkan, ia sempat menyangka otak yang ternganga itu adalah kakak sang bayi atau ari-ari yang menyertai kelahiran sang bayi.
Sebab saat ia menyentuhnya sangat lebut sekali. Namun sungguh terkejutnya dokter yang juga sebagai Ketua IDI Kepulauan Meranti itu, setelah bayi keluar dari rahim ibunya dan disaksikan otaknya tidak ditutupi batok kepala.
‘’Saya kita ari-ari atau kakak sang bayi. Sebab saat disentuh sangat lembut,’’ kata Azharul yang ditemui, Selasa (27/9) pagi diruangan prakteknya di RSUD. Ia juga menyebutkan penyebab hingga cacatnya putra Samsidi itu karena infeksi dan kekurangan gizi.
Secara medis, Ketua IDI Kepulauan Meranti itu memprediksi sehingga tidak adanya tengkorak penutup otak si bayi karena terjadi kegagalan di minggu ketujuh saat masih di dalam kandungan. Sementara orang tua tidak pernah sekalipun melakukan pemeriksaan setelah mengetahui sedang hamil.
‘’Kalau dilihat dari berat badan sangat normal. Termasuk waktu melahirkan sangat cukup bulan. Kondisi ini juga kekurangan asam folat. Dalam istilah kedokteran dengan kondisi seperti ini disebut an en cophalus atau tidak punya batok kepala. Si bayi juga untuk bertahan hidup sangat sulit sekali,’’ terang dr Azharul.
dr Reza menjelaskan di hadapan sejumlah wartawan, yang menyebabkan kondisi itu menurut referensinya adalah virus torch yang merupakan gabungan dari berbagai virus seperti toxoplasma, rubella, kelainan kromosom dan lainnya.
Sekitar lebih kurang pukul 14.30 WIB seperti yang ditafsirkan seluruh dokter yang bertugas di RSUD Selatpanjang, bayi yang belum sempat diberikan nama oleh kedua orang tuanya itu menghembuskan nafas terakhir. Belum ada kepastian akan dibawa ke kampung halaman ataupun dikebumikan di Selatpanjang.***
Tak ada senyuman dan tawa, hanya raut murung dan kesedihan saja yang bisa ditunjukkan wajah pasangan Samsidi (45) saat mengetahui bayi yang dikandung istrinya, Nurhayati (43) terlahir cacat dengan kondisi tanpa batok kepala, sehingga otaknya terbuka tanpa penutup.
Seperti hari-hari biasanya, Senin (26/9) pagi Samsidi tetap menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai nelayan dengan menjaring ikan di laut dengan menggunakan sampan.
Namun saat pulang ke rumahnya, di Dusun Tanjung Gemuk, Desa Tanjung Bakau, Kecamatan Rangsang ia langsung meminta orang yang ada di sekitranya untuk memanggil bidan desa.
Setelah sang bidan meminta Samsidi untuk membawa sang istri yang terus meradang kesakitan membawa ke Selatpanjang untuk dirujuk ke RSUD Selatpanjang, karena bidan desa yang membatunnya itu tidak mampu, ia langsung bergegas mencari sepeda motor untuk membawa istrinya yang sudah hamil sembilan bulan lebih ke pelabuhan untuk dibawa dengan menggunakan kapal.
Setelah sampai ke Pelabuhan di Desa Tanjung Samak, dengan menggunakan kapal Dumai Express Samsidi membawa istrinya dengan kecemasan.
Sebab selama di kapal, istri yang terus berteriak kesakitan, harus kembali menempuh perjalanan selama lebih kurang satu jam untuk sampai ke Kota Selatpanjang.
Setelah masuk ke RSUD Selatpanjang bidan dan dokter langsung cekatan mengambil perannya untuk membantu melahirkan istri Samsidi.
Selama berjuang beberapa jam, tepatnya sekitar pukul 17.45 WIB, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin putra.
Berat badannya normal. Namun setelah diperhatikan secara seksama, ternyata batok kepala untuk menutupi otak bayi malang itu tidak ada.
‘’Tidak ada tanda-tanda atau hal-hal yang kami lakukan di luar kebiasaan. Tapi beberapa hari terakhir saye sempat bermimpi dikejar-kejar oleh hantu,’’ ujar Samsidi saat ditemui Riau Pos, Senin malam (26/9) di depan rungan anaknya dirawat oleh sejumlah bidan RSUD, dengan berurai air mata mengenang nasib malang yang diterima anak ke-9 nya itu.
Setelah mendapati kondisi anaknya yang tidak biasa itu, ia juga menceritakan dengan kesedihan yang mendalam di depan sejumlah wartawan yang dating menemuinya di RSDU Selatpanjang itu bahwa yang terpikirkan olehnya adalah bagaimana cara dia membiayai proses persalinan istrinya selama di RSUD itu. Sebab untuk membawa istrinya ke Selatpanjang saja, ia harus meminjam uang kepada tetangganya sebesar Rp200.000.
‘’Macam mane care nak bayo. Untuk kemari saja, saya tidak punya uang. Untuk membayar ongkos, saya pinjam uang kawan sebanyak Rp200 ribu,’’ ujarnya kembali menitikkan air mata.
Pria yang sudah memiliki satu cucu itu, baru kali ini istrinya melahirkan sampai ke RSUD. Sebelumnya untuk melahirkan delapan orang anaknya yang hanya tinggal tujuh orang hanya dilahirkan di bidan desa di kampungnya saja. Ia juga belum memberikan nama kepada putra bungsunya itu.
Disangka Ari-ari
Dokter yang membantu menangani proses persalinan istri Samsidi, dr Azharul SPoG saat ditemui menyebutkan, ia sempat menyangka otak yang ternganga itu adalah kakak sang bayi atau ari-ari yang menyertai kelahiran sang bayi.
Sebab saat ia menyentuhnya sangat lebut sekali. Namun sungguh terkejutnya dokter yang juga sebagai Ketua IDI Kepulauan Meranti itu, setelah bayi keluar dari rahim ibunya dan disaksikan otaknya tidak ditutupi batok kepala.
‘’Saya kita ari-ari atau kakak sang bayi. Sebab saat disentuh sangat lembut,’’ kata Azharul yang ditemui, Selasa (27/9) pagi diruangan prakteknya di RSUD. Ia juga menyebutkan penyebab hingga cacatnya putra Samsidi itu karena infeksi dan kekurangan gizi.
Secara medis, Ketua IDI Kepulauan Meranti itu memprediksi sehingga tidak adanya tengkorak penutup otak si bayi karena terjadi kegagalan di minggu ketujuh saat masih di dalam kandungan. Sementara orang tua tidak pernah sekalipun melakukan pemeriksaan setelah mengetahui sedang hamil.
‘’Kalau dilihat dari berat badan sangat normal. Termasuk waktu melahirkan sangat cukup bulan. Kondisi ini juga kekurangan asam folat. Dalam istilah kedokteran dengan kondisi seperti ini disebut an en cophalus atau tidak punya batok kepala. Si bayi juga untuk bertahan hidup sangat sulit sekali,’’ terang dr Azharul.
dr Reza menjelaskan di hadapan sejumlah wartawan, yang menyebabkan kondisi itu menurut referensinya adalah virus torch yang merupakan gabungan dari berbagai virus seperti toxoplasma, rubella, kelainan kromosom dan lainnya.
Sekitar lebih kurang pukul 14.30 WIB seperti yang ditafsirkan seluruh dokter yang bertugas di RSUD Selatpanjang, bayi yang belum sempat diberikan nama oleh kedua orang tuanya itu menghembuskan nafas terakhir. Belum ada kepastian akan dibawa ke kampung halaman ataupun dikebumikan di Selatpanjang.***

0 komentar: on "Otaknya Tanpa Penutup, Akhirnya Meninggal"
Posting Komentar